Adab mencari ilmu

Budaya mencari ilmu ada sejak zaman dahulu, bahkan seorang Imam besar dunia seperti Imam syafii  suka melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu dan memberikan pelajaran atas keilmuannya pada masyarakat. Dalam hal pendidikan, ‘tekun menuntut ilmu’ adalah kombinasi dari minat untuk menguasai sesuatu, kerelaan dalam menerima tugas dan  ketahanan dalam menyelesaikan tugas yang bertujuan mencapai ilmu tersebut.

Melihat literatur, banyak ilmuan dan psikolog terkemuka, dulu dan sekarang, mengenali faktor non-intelektual dalam kinerja pembelajaran, dan banyak siswa yang terjebak dalam kesalahan adab menuntut ilmu.  Fasilitas dan teknologi memang dinilai mempermudah proses menuntut ilmu, saat era digital dan media internet membuat ilmu menjadi berkelimpahan untuk diakses, namun minimnya kesadaran membangun mental pada  siswa untuk tahan dalam proses menuntut ilmu itu sering terlihat jelas saat in, padahal Adab yang baik saat menuntut ilmu akan menjadi hal yang memperkuat siswa dan hal menantang bagi sebagian orang tua, maka mendampingi dan menemani proses menuntut ilmu pada anak adalah sebuah proses pengasuhan yang sangat baik karena membangun kedekatan dan memperkuat hubungan kultural.

“Siapa dia yang tidak pernah mencicipi pahit getirnya mencari ilmu, maka ia akan merasakan hinanya kebodohan selama hidupnya.”

~Imam Syafi’i~
Belajar dari proses menuntut ilmunya seorang ulama besar, sejak usia remaja, ketika sedang belajar di Makkah, Karena ia tidak mampu membeli bahan tulisan yang cukup, imam Syafi’i biasanya pergi ke kantor gubernur untuk mencari kertas yang sudah digunakan. Di sisi kosong kertas, dia akan melakukan pelajaran. Dia menghafal Al Qur’an pada usia yang sangat muda.

Untuk meningkatkan pengetahuannya tentang bahasa Arab, ia pergi jauh ke padang pasir untuk bergabung dengan suku Badui Huthail, yang terkenal dengan standar terbaik untuk sastra Arab. Dia mempelajari puisi dan mempelajari laporan dan cerita prosa mereka. Pada usia 20 tahun ia telah menyelesaikan semua yang harus diajarkan oleh para ulama, tetapi kehausan akan pengetahuan ini tidak hilang. Jadi, dia pergi ke Madinah untuk belajar dari Imam Malik. dst….

Menjunjung tinggi kadar sebuah ilmu adalah mindset dasar yang perlu diajarkan orang tua pada anak, dimana anak akan memahami bahwa mencari ilmu itu bukan dengan cara di sodorkan dihadapan seperti proses makannya seorang bayi, namun perlu melakukan perjalanan dan merasakan proses perjuangan daat menuntut ilmu yang bisa melelahkan kepala akan menjadi proses keratif belajar pada anak , bahkan di lain kesempatan Imam Syafii berkata “Jika Kamu tidak dapat menahan lelahnya belajar,  Maka kamu harus sanggup menahan perihnya Kebodohan.”

Berikan pengetahuan pada anak tentang pentingnya berusaha dalam menuntut ilmu, bagaimana menjaga adab pada guru dan para sesama penuntut ilmu, saat adab itu terjaga maka ilmu yang akan diterima akan lebih bermanfaat dan menjadikan anak sebagai manusia lebih berkualitas.

Orang tua yang bebas

Beberapa cara Pola pengasuhan anak yang hari ini sering disebut dengan istilah parenting pun  pada  masing-masing cara tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan, ada sebuah cara yang sering dianut oleh orang tua dari golongan generasi Millenial pada anak-anak mereka, generasi Z. cara ini bisa dikenali sebagai cara pendidikan yang cenderung memberikan kebebasan dan membiarkan anak berproses dan mengambil keputusan sendiri, Orang tua yang “Bebas”.

 Orang tua yang memilih cara ini lebih suka “mempercayai” anak-anak mereka dalam semua aspek. Setelah anak itu mengadopsi seperangkat keterampilan keselamatan, orang tua yang bebas akan mundur. Pada kenyataannya, semua orang tua seperti itu ingin menikmati hidup mereka sendiri dan terlibat dalam kehidupan dan masalah anak mereka sesedikit mungkin.

Istilah ini menjadi terkenal karena kasus Lenore Skenazy, seorang mantan jurnalis yang membiarkan putranya yang berusia 9 tahun menggunakan kereta bawah tanah New York sendirian. Wanita itu biasanya disalahkan oleh masyarakat dan mendapat gelar “ibu terburuk Amerika.”

Pola asuh dengan cara memberikan banyak kebebasan adalah contoh tipe pengasuhan yang lalai.

Mengapa metode ini buruk bagi anak-anak? Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua bebas dapat tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih mandiri, bertanggung jawab dan tangguh. Namun, ketika mereka akan menghadapi beberapa masalah serius, mereka mungkin tidak mendapatkan cukup dukungan dan bantuan dari orang tua mereka yang sangat mereka butuhkan.

Apa yang buruk bagi orang tua? Masalah utama gaya Bebas adalah aspek hukumnya. Misalnya, di Queensland, adalah ilegal bagi orang tua untuk meninggalkan anak-anak mereka sendirian untuk waktu yang  cenderung lama.

Berikan kebebasan pada anak sesuai porsinya, dalam teknologi silahkan biarkan mereka mengexplorasi untuk mendapatkan kedalaman ilmu dibidang itu, bebaskan mereka dalam ruang yang tetap terjangkau oleh orang tua, sambil alokasikan waktu untuk menemani proses pertumbuhan ilmu mereka dengan dampingan dan diskusi yang mengedepankan komunikasi secara fisik agar naluri kultural anak tetap terjaga dan respon berkomunikasi saling membutuhkan antara kedua pihak.

Terlalu ketat dalam proses mengasuh anak, pengawasan total atau perawatan berlebihan tidak akan membuat anak-anak bahagia. Hal terbaik untuk dilakukan adalah memberi anak-anak kebebasan yang cukup dan membiarkan mereka menemukan dunia ini sembari berada di sisi mereka setiap saat mereka membutuhkan bantuan atau nasihat. Para ibu dan ayah yang peduli harus ingat bahwa aplikasi pemantauan orang tua yang andal dapat menjadi layanan hebat dalam mengawasi anak-anak tanpa merusak hubungan dengan mereka.

Fokus pada Kesabaran dan Kepuasan Dari Pekerjaan

Menemukan kenyataan bahwa generasi baru saat ini memiliki kecenderungan sifat yang lebih kompleks dan memerlukan penanganan khusus untuk bisa menjadi partner kolaborasi yang baik, bagaimana media sosial telah menciptakan budaya kepuasan instan, di mana generasi baru ini telah menumbuhkan rasa berhak dan harapan. pada keadaan bahwa mereka mampu hidup lebih baik dari generasi sebelumnya dalam segala hal hanya karena merasa ada dukungan teknologi.

“Media sosial, bagaimanapun, telah menciptakan generasi yang sangat tidak sabar yang menginginkan segalanya dengan segera. Terlebih lagi, kaum milenial tidak bertahan lama dalam hal apa pun, apakah dalam hal pekerjaan atau hubungan. ”- The Independent

Kutipan di atas menjelaskan mengapa kaum milenial mungkin menjadi “penghilang pekerjaan.” Mereka tidak sabar, karena mereka mengharapkan kesuksesan instan dan kepuasan di tempat kerja. Ketika mereka tidak merasakan atau mendapatkan barang-barang itu, mereka pergi dengan harapan bisa mendapatkannya di tempat lain. fenomenanya, ribuan millenial mendapatkan training dan pendidiakn setiap tahun dan mereka sangat tidak sabar … jusru pendidikan ang dibutuhkan kaum ini adalah mengajari mereka cara berkomunikasi, apa yang tersisa untuk mereka pelajari, dan bagaimana mencari tahu apakah pemimpin di tempat mereka bekerja termasuk seorang pemimpin ang peduli? biasanya mengakibatkan mereka tetap tinggal dan tidak meninggalkan perusahaan mereka. , setidaknya selama satu tahun atau lebih lama.

Bertindak sebagai pelatih bagi para generasi muda ini, Anda dapat mengajari pentingnya melakukan pekerjaan besar dan menemukan pemenuhan dalam proses itu. Pepatah klasik “kesabaran adalah suatu kebajikan” adalah salah satu yang banyak didengar anak-anak generasi baru, tetapi tidak benar-benar dipahami.

Ciptakan insentif agar generasi milenial Anda dapat mempelajari pentingnya bersabar. Kepuasan sejati, berasal dari proses melakukan pekerjaan jangka panjang, dan melakukannya dengan baik dengan upaya 100%. Seperti orang tua yang hebat, ciptakan tolok ukur yang secara intrinsik memotivasi mereka sehingga mereka dapat menciptakan motivasi diri dan merasakan kemajuan mereka.

Jika menjadi seorang pemimpin dengan cara yang baik dan pendekatan yang membuat nyaman generasi muda ini, namun tetap dalam sistem yang kuat, maka perusahaan atau ekosistem anda akan menjadi tempat yang nyaman dan sangat dicintai, selamat berproses.

Bagaimana orang dewasa menaklukkan hati remaja

Menjadi orang dewasa yang memahami sifat remaja sekarang dilakukan demi bisa membangun sebuah kerjasama yang berhasil, terutama di tempat kerja saat ini, untuk menjadi mentor bagi mereka  yang remaja golongan milenial dan gen Z terbaik membutuhkan kesadaran orang dewasa yang memperlakukan generasi baru ini seolah-olah Anda adalah bukan hanya sekedar tapi partner, mentor, sahabat bahkan orang tua mereka.

Sebagian pekerja melakukan curhat tentang generasi muda ini “ kami tidak harus menjadi orangtua bagi mereka di tempat kerja, mereka bukan anak-anak lagi, capek, dan itu sebabnya mereka menyebutnya pekerjaan dan mereka mendapatkan dibayar, profesional lah”.

“Oh ya, apa yang terjadi dengan pola pikir yang seperti itu jika dijalankan sampai hari ini? silahkan tidak percaya   , karena resiko yang terjadi adalah  tidak ada yang terjadi kecuali komunikasi yang berantakan dalam sebuah team. silahakan memulai mengubah pola pikir untuk benar-benar peduli dan berinvestasi dalam keberhasilan dan kemajuan mereka. Tunjukkan cinta yang kuat dan teguh dalam pendekatan Anda. Semakin jelas Anda tentang apa yang Anda inginkan dari milenium Anda, semakin mereka akan mengerti apa yang dituntut dari mereka untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Berikan tanggung jawab kepada milenium Anda dan beri mereka kesempatan untuk gagal. Ya,  Biarkan mereka gagal . Mereka perlu belajar bagaimana mengatasi kegagalan, mengembangkan harga diri, dan belajar dari kesalahan mereka. Sebagai pelatih milenial (dan orang tua), ini memberi Anda kesempatan untuk memberdayakan mereka dengan alat yang mereka butuhkan di dunia nyata — untuk tumbuh dan menjadi mandiri.

Tanamkan pentingnya melakukan pekerjaan luar biasa dan mengajarkan kesabaran milik generasi masa lampau  yang menjadi value besar anda. Jelaskan pada generasi baru bahwa tidak ada hal yang bernilai yang mudah didapatkan. Tetapkan tujuan di sepanjang jalan sehingga mereka belajar untuk menikmati proses, sambil tumbuh secara bersamaan.

Saat Anda muncul secara otentik untuk menjadi partner bagi generasi baru ini, mereka akan muncul untuk Anda dan perusahaan Anda. Cara baru melatih generasi baru ini adalah seperti mengasuh anak. Apakah Anda siap menghadapi tantangan?

 

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1440 H

Hidup Cuma Sekali
Lebaran Cuma Sekali

Sekali kali buat doa
Sekali kali buat pahalan

Nah kalo minta maaf ini bukan sekali-kali
Tiap kali buat salah mohon dimaafkan ya

Kami Keluarga Besar Kariranak.id

mengucapkan

Taqobalallahu Minna Wa Minkum, Minal Aidin Wal-Faizin Mohon Maaf Lahir Dan Bathin 🙏🏻

Adab dalam proses Pendidikan

Perkembangan teknologi mempercepat segalanya. Bermacam-macam bentuk kesulitan atau hambatan yang ada pada masa lalu sedikit demi sedikit terkikis oleh kehadiran teknologi yang kian lama semakin maju. Orang dapat mengakses apa yang ia butuhkan dengan mudahnya lewat gadget mereka yang hanya seukuran genggaman tangan. Namun kenapa orang zaman sekarang, dengan akses material yang sangat lengkap, masih saja suka mengeluh soal hidup mereka?

Kita terpenuhi secara materi, tetapi kosong secara nurani. Disinilah letak pentingnya penggunaan hati, yang diwujudkan dalam bentuk adab. Adab dapat membimbing manusia untuk menjadi makhluk yang lebih baik. Ancaman dan bahaya yang timbul dari munculnya kecanggihan teknologi ini dapat ditekan ketika seseorang itu beradab. Dari akar katanya dalam bahasa Arab, adab berarti sopan santun. Atau dalam arti luasnya dapat diartikan sebagai tata karma, moral sosial, nilai-nilai, atau apa saja yang dianggap baik dalam tatanan masyarakat.

Sepintar-pintarnya orang adalah meraka yang mengetahui pentingnya posisi adab ini. Para tokoh-tokoh besar seperti Imam Malik, sangat menekankan pentingnya peranan adab dalam pendidikan. Bahkan ketika ia belajar kepada salah satu gurunya yang bernama Syaikh Rabiah selama 20 tahun, hanya 2 tahun yang digunakannya untuk belajar ilmu. Sedangkan 18 tahun lainnya digunakan untuk mempelajari adab. Imam Malik kemudian di lain kesempatan berkata, “pelajarilah adab sebelum mempelajari sebuah ilmu.”

Ilmu setinggi apapun akan menjadi sia-sai jika tidak didasari dengan adab. Kecenderungan orang ketika memiliki illmu yang tinggi ialah hatinya akan ikut meninggi. Ia akan merasa lebih baik daripada lainnya karena mempunyai kemampuan dan kapasitas. Kemudian perasaaan itu akan bermanifestai dalam bentuk kesombongan, inilah bahaya dari menimba ilmu tanpa adanya kesadaran akan pentingnya adab.

Dengan adab manusia dituntun untuk menjadi lebih baik. Maka dari itu adab harus menjadi pondasi bagi seseorang dalam hidup. Pribadi yang berperilaku baik, ramah kepada sesama, bersikap dengan tata karma yang sopan, pasti akan disukai orang-orang disekelilingya. Tidak hanya itu, manusia yang beradab akan dimudahkan dalam perjalanannya mencari ilmu. Mempelajari adab secara terus menerus tidak akan menghalangi seseorang untuk pintar secara ilmiah. Justru melakukannya akan membantunya untuk memiliki ilmu secara lebih baik.

6 ide Entrepreneurship Untuk Remaja

            Akses bagi remaja untuk berwirausaha sudah menjadi sangat terbuka. Semua orang yang berkemauan dapat memulai menjadi entrepreneur. Tetapi terkadang halangan seseorang, utamanya anak muda, ialah bahwa ia kebingungan untuk memulai, usaha macam apa yang sebaiknya ia jalani. Untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut, berikut ide-ide yang dapat dipertimbangkan oleh para remaja  dalam memulai jalan entrepreneurshipnya

  1. Hobi

Pekerjaan yang paling mudah dan paling menyenangkan adalah pekerjaan yang kita sukai. Anak muda akan bekerja secara lebih keras dan efisien ketika apa yang ia kerjakan sejalan dengan passion mereka. Contoh ketika ada seorang anak yang suka mobil, hanya dengan melihat mobil bagus saja anak itu bisa gembira. Dari situ ia bisa menawarkan jasa yang terkait dengan hobinya itu, katakanlah ia membuka jasa cuci mobil. Walaupun hanya menyuci sebagai pekerjaan, karena yang ia lakukan itu dapat membuatnya bersentuhan dengan mobil-mobil ia kagumi, ia akan bekerja dengan gembira dan pekerjaannya akan sangat efisien.

  1. Produk

Bentuk paling dasar dari berusaha merupakan jual beli. Mulai dari kebutuhan pokok seperti makanan dan pakaian. Sampai barang-barang sekunder seperti handphone, aksesoris, dan sebagainya. Untuk menjual sebuah produk, bisa dengan membuat sendiri atau membeli lalu menjual kembali, tergantung pada kemampuan seseorang tersebut.

  1. Servis

Daripada menjual sebuah produk, anak muda juga memiliki opsi untuk menawarkan jasa. Macam pekerjaan ini dapat berupa programming komputer, mencuci mobil, melukis, dan sebagainya. Banyak anak muda yang memilih usaha servis karena lebih mudah dan murah untuk dimulai ketimbang menjual sebuah produk. Pekerjaan jenis jasa ini dapat dimulai dengan sedikit modal atau bahkan tanpa modal sama sekali. Misal ketika seseorang mempunyai pengetahuan di bidang komputer, maka ia bisa untuk membuka jasa reparasi komputer.

  1. Trend / Mode

Trend yang sedang berlangsung sangat menjajikan untuk dijadikan sebuah usaha. Contohnya ketika muncul sebuah mode untuk memakai sepatu yang dicat warna-warni, maka seseorang bisa membuka jasa cat sepatu, misalnya. Usaha berbasis trend bisa menghasilkan keuntungan banyak dalam waktu singkat. Tetapi kelemahannya yaitu bahwa bisnis semacam ini hanya bersifat sementara. Dan agak sulit untuk memprediksi kapan trend itu akan mulai memudar. Maka diperlukan kecermatan untuk membaca sebuah trend.

 

  1. Partnership

Memulai bisnis juga bisa dimulai dengan mencari seseorang yang bisa dijadikan partner. Ide yang hebat bisa muncul ketika dipikirkan oleh lebih dari satu orang. Ketika para entrepreneur bergabung untuk memulai suatu bisnis, mereka bisa saling menguntungkan dengan masing-masing ide mereka. Sekaligus menambah kelebihan usaha mereka dengan menggabungkan skill yang dimiliki oleh masing-masing orang.

 

  1. Inspirasi dari media

Zaman sekarang informasi sudah tersedia dimana saja. Salah satu media yang paling baik untuk menggali ide bisnis ialah media yang mempublikasi soal bisnis. Publikasi seperti, Wall Street Journal, Forbes, Business Week, dapat menjadi sumber inspirasi bagi para entrepreneur untuk memunculkan ide bisnisnya sendiri.

 

Pendidikan berbasis nilai

Orang pintar di dunia sudah sangat banyak, terbukti pada tahun 2016 sudah tercatat kurang lebih ada 525 juta sarjana, atau kira-kira 7 dari setiap 10 orang. Angka ini menakjubkan jika kita melihat pada tahun 2006, orang yang memiliki gelar sarjana hanya berjumlah 1 dari 100. Membuktikan bahwa pendidikan berkembang secara sangat cepat.

Namun sayangnya, tingginya pendidikan yang ditempuh oleh para sarjana tersebut masih sangat condong kepada pengetahuannya saja, belum termasuk pada nilai-nilai kehidupan yang patutnya dimiliki oleh semua orang. Jadi yang tercetak di dunia ini adalah orang pintar secara otak tetapi kurang mulia secara hati. Ambil contoh, lihat saja betapa kecilnya kesadaran orang-orang untuk membuang sampah pada tempatnya. Seharusnya pengetahuan mereka memadai untuk tahu bahwa membuang sampah secara sembarangan tidak sepatutnya dilakukan. Namun kenapa ini masih saja terjadi dan mereka tampak acuh tak acuh?

Hal ini dikarenakan karena kurangnya kesadaran akan nilai. Semakin orang menjadi pintar maka akan semakin memiliki kecenderungan untuk besar hati. Maka agar kecondongan itu tidak kian membesar, perlu adanya penyeimbang. Kesadaran akan nilai itulah yang akan menimbulkan keseimbangan. Ketika hati kita diisi oleh nilai-nilai etika, ilmu yang tinggi tidak akan membiarkan hati kita untuk ikut meninggi. Tetapi justru akan membuat kita untuk menjadi rendah hati dan menghormati orang lain serta lingkungan.

Merujuk kepada Diane Tilman dan Dina Hsu, pendidikan akan nilai ini didasari oleh setidaknya 11 unsur, yaitu kedamaian, penghargaan, cinta, tanggung jawab, kebahagiaan, kerja sama, kejujuran, kerendahan hati, toleransi, kesederhanaan, dan persatuan. Penanaman unsur-unsur ini secara ideal harus diterapkan pada praktek pendidikan. Baik di rumah, di sekolah, atau dimanapun lingkungannya. Tidak hanya secara pengajaran, tetapi orang tua, guru, maupun mentor dalam bentuk lainnya harus menunjukkan nilai-nilai ini secara praktik. Jadi mereka yang berperan sebagai tenaga pengajar harus bisa menjadi role model. Karena cara termudah bagi anak-anak untuk mempelajari sesuatu adalah dengan meniru. Dan ketika terbentuk sinergi penerapan nilai-nilai kebaikan dari kedua pihak, maka akan menjadi suatu langkah untuk membentuk masyarakat yang lebih baik.

 

Membangun Kebiasaan baik

Memiliki anak remaja yang berbeda kebiasaannya dengan orang tua sering dijadikan sebuah “ganjalan” hati orang tua, kadang dijadikan alasan kemarahan orang tua, misalkan anak lebih senang mengurung diri dan bermain dalam kamar serta melakukan aktifitas dalam ruangan yang membuat anak tidak seperti remaja kebanyakan. Pada kondisi seperti ini orang tua perlu tenang sejenak, Bagi remaja, hidup bukanlah taman bermain, itu hutan. Dan, menjadi orang tua dari seorang remaja juga tidak berjalan di taman, proses ini adalah perjuangan membesarkan seorang manusia yang kan menjadi pertanggung jawaban dihadapan Tuhan. Dalam buku, 7 Kebiasaan Remaja yang Sangat Efektif , penulis Sean Covey  memberikan “kompas untuk membantu remaja dan orang tua mereka menavigasi masalah yang mereka hadapi setiap hari.”

orang tua perlu segera mengetahui Bagaimana  cara anak remaja menangani tekanan teman sebaya? Motivasi? Berhasil atau kurang? Kehidupan seorang remaja penuh dengan masalah sulit dan keputusan yang mengubah hidup. Sebagai orang tua,  bertanggung jawab untuk membantu mereka mempelajari asas dan etika yang akan membantu mereka mencapai tujuan dan menjalani kehidupan yang berhasil.

Meskipun baik untuk memberi tahu anak-anak bagaimana menjalani hidup mereka, “anak melihat dan memperhatikan apa yang Anda lakukan dibanding mendengarkan apa yang Anda katakan,”  Jadilah contoh hidup untuk mereka, praktikkan apa yang Anda khotbahkan. Contoh Anda bisa sangat berpengaruh untuk hidup mereka.

beberapa ide ini bisa anda lakukan untuk membantu anak remaja Anda memahami proses diri mereka dan bekerja samalah untuk menerapkannya:

 Proaktif

Menjadi proaktif adalah kunci untuk membuka kebiasaan lain. Bantu anak remaja Anda mengendalikan dan bertanggung jawab atas hidupnya. Orang proaktif memahami bahwa mereka bertanggung jawab atas kebahagiaan atau ketidakbahagiaan mereka sendiri. Mereka tidak menyalahkan orang lain atas tindakan atau perasaan mereka sendiri.

Mengenalkan Masa depan

Jika remaja tidak jelas tentang di mana mereka ingin berakhir dalam hidup, tentang nilai-nilai mereka, tujuan, dan apa yang mereka perjuangkan, mereka akan berkeliaran, membuang-buang waktu, dan dilempar ke sana kemari oleh pendapat orang lain. Bantu anak remaja Anda membuat pernyataan misi pribadi tentang bagaimana hidupnya di masa depan yang akan bertindak sebagai peta jalan dan mengarahkan serta memandu proses pengambilan keputusannya.

Menentukan prioritas

Kebiasaan untuk konsisten pada waktu dan mengatur aktifitas dalam daftar membantu remaja memprioritaskan dan mengatur waktu mereka sehingga mereka fokus dan menyelesaikan hal-hal terpenting dalam hidup mereka. Mengutamakan hal-hal pertama juga berarti belajar untuk mengatasi ketakutan dan menjadi kuat pada masa-masa sulit. Ini menjalani hidup sesuai dengan yang paling penting.

“Everybody happy”

Remaja dapat belajar menumbuhkan kepercayaan diri bahwa adalah mungkin untuk menciptakan suasana menyenangkan di setiap hubungan. Kebiasaan ini mendorong gagasan bahwa dalam setiap diskusi atau situasi tertentu kedua belah pihak dapat mencapai solusi yang saling menguntungkan. Anak remaja Anda akan belajar merayakan pencapaian orang lain dibanding merasa terancam oleh keberhasilan atas karya orang lain..

Memahami perasaan orang lain

Karena kebanyakan orang tua tidak pandai mendengarkan dengan baik, salah satu frustrasi terbesar dalam hidup ramaja saat ini adalah banyak yang merasa tidak dimengerti. Kebiasaan memahami perasaan orang lain akan memastikan anak remaja Anda mempelajari keterampilan komunikasi , mendengarkan secara aktif.

Kolaborasi

Sinergi tercapai ketika dua orang atau lebih bekerja bersama untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik daripada yang bisa dilakukan sendirian. Melalui kebiasaan ini, remaja belajar bahwa itu tidak harus menjadi “caramu” atau “caraku” melainkan cara yang lebih baik, cara yang lebih tinggi. Kolaborasi memungkinkan remaja menghargai perbedaan dan lebih menghargai orang lain.

Menjadi Spesialis

Remaja tidak boleh terlalu sibuk hidup meluangkan waktu untuk memperbaharui diri atau mempelajari hal-hal baru. Ketika seorang remaja memahami konsep “deep understanding” dia menjaga  pribadinya dan memperdalam pengetahuannya agar tajam dan terakui oleh masyarakat tentang kemampuan skillnya sehingga dia bisa lebih baik menghadapi kehidupan. Ini berarti secara teratur memperbarui dan memperkuat empat dimensi utama kehidupan – tubuh, otak, hati, dan jiwa.

 

Selamat Berproses bersama.

FaQ Karir Anak

karir-anak-faq-blue-square

  • Tanya :

Untuk Program Family Visit, apakah sebuah keharusan untuk orang tua dan anak ikut hadir?

Jawab :

Program Family Visit adalah pertemuan dan diskusi  Karir Anak dengan pihak Keluarga, karena GOAL dari pertemuan ini adalah wawasan tentang dunia Digital untuk calon siswa, jadi kami mewajibkan orang tua dan anak bisa bersamaan hadir untuk Optimalnya  proses belajar.

  • Tanya : pada program Online class, bisakah pihak siswa memilih lebih dari satu materi balajar?

Jawab : Bisa. Kelas Online tidak dibatasi jumlah keikutsertaan siswa dalam mengikutinya, Namun disarankan untuk Fokus pada materi Belajar yang sesuai dengan minat.

  • Tanya :

Anak saya tidak Homeschooling, apakah tetap bisa ikutan program di karir Anak?

Jawab :

Selama masih dalam rentang usia  13-20 tahun, Karir anak tetap menerima siswa sekolah formal, tentunya  keputusan beraktifitas dengan penyesuaian waktu yang  sudah disepakati oleh orang tua dan pihak Karir anak.

  • Tanya :

Apakah hanya Materi Digital yang ada di Program karir Anak

Jawab :

Saat ini Karir anak menyediakan kelas untuk siswa dengan materi Belajar Digital dan visual, namun kedepan bisa meningkat pada materi pendidikan yang lain. Pada Dasarnya

  • Tanya :

Apabila siswa sudah selesai program Live In di Karir Anak, apakah mereka masih bisa melanjutkan Live In nya? Bagaimana dengan biayanya?

Jawab :

Siswa yang sudah selesai program  Live In tetap diizinkan untuk melanjutkan programnya, dengan biaya yang lebih  minim, karena bentuk pendampingannya lebih pada pendalaman materi dan pengembangan system, bahkan di situasi tertentu siswa sudah masuk dalam program magang, maka siswa akan mendapatkan uang saku yang dapat membantu meringankan biaya hidup selama live In.  untuk detail biaya bisa di bicarakan dengan pihak managemen  karir Anak. (email)

  • Tanya :

Untuk calon siswa yang berdomisili dalam kota, apakah harga sama dengan siswa dari luar kota?

Jawab :

Tentu berbeda, karena komponen  akomodasi di tiadakan, jadi pasti lebih hemat. Detail biaya bisa didiskusikan dengan pihak managemen karir Anak. (email)

 

Terima kasih