Generasi Z, anak baru yang Pintar

Menemui fenomena nyata generasi Z  (Lahir setelah tahun 1995-an) yang dianggap generasi baru dengan tingkat explore yang tinggi, membuat generasi sebelumnya kewalahan dengan ledakan cara berfikir dan manuver perilaku yang cenderung berbeda dengan cara orang dewasa dan sebagai orangtua kita harus yakin bahwa generasi Z juga mendengarkan hal-hal yang terjadi, bahkan mereka memiliki pandangan berbeda dan mengapa mereka juga mereka akan berfikir seperti apapun output dari hal tersebut.

Akan ada banyak pendapat dan opini dari sudut generasi lama dan berseberangan dengan generasi Z tentang bagaimana cara memahami gaya percakapan, bagaimana cara mereka berdiskusi dan situasi seperti itu sangat penting bagi kesuksesan mereka, karena perbedaan generasi cenderung memicu hal sensitif atas dasar adab dan budaya yang berbeda, namun kultur tersebut adalah pedoman paling dasar yang tetap penting di junjung generasi manapun untuk menjadikan generasi itu selamat dan menelurkan budaya yang baik untuk generasi selanjutnya. Jika mereka hanya terbiasa dikelilingi oleh ideologi mereka sendiri , pada waktu tertentu dalam ruang diskusi maka beebrapa hal bertentangan muncul, tentunya mereka akan menunjukkan respon yang tidak baik atau sama sekali tidak tahu cara merespon, disitulah tugas generasi sebelumnya menjaga agar generasi Z ini memiliki kultur yang baik, terus menjaga dan mengenalkan literatur budaya kearifan lokal yang bisa menjaga kemartabatan generasi Z yang rentan akan distrosi  budaya karena arus teknologi yang berlimpah.

Pada akhirnya, hal itu hanya akan membuat generasi lain pada tataran umur lebih dewasa akan menghakimi seluruh generasi Z yang pada dasarnya sebuah penghakiman akibat oknum yang ditemui, sebagian peniaian sepihak akan menunjuk mereka generasi Z  adalah generasi yang tidak sopan, generasi negosiator yang buruk atau justru penghakiman pada tingkatan anak manja. kita perlu mencari cara-cara yang nyata untuk membantu generasi Z keluar dari cangkang mereka, menyelamatkan mereka dengan membangun kesadaran dan mindset yang baik.

 

Semakin besar gelombang orang dewasa yang merasa menemani dan mendampingi generasi Z menuju kesadaran adalah sebuah gerakan mulia yang akan menyelamatkan generasi kedepan, maka semakin banyak pihak yang akan merasa beratnggung jawab untuk ikut serta dalam gerakan itu, maka gelombang ini akan menjadi gelombang kebaikan.

 

Adab mencari ilmu

Budaya mencari ilmu ada sejak zaman dahulu, bahkan seorang Imam besar dunia seperti Imam syafii  suka melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu dan memberikan pelajaran atas keilmuannya pada masyarakat. Dalam hal pendidikan, ‘tekun menuntut ilmu’ adalah kombinasi dari minat untuk menguasai sesuatu, kerelaan dalam menerima tugas dan  ketahanan dalam menyelesaikan tugas yang bertujuan mencapai ilmu tersebut.

Melihat literatur, banyak ilmuan dan psikolog terkemuka, dulu dan sekarang, mengenali faktor non-intelektual dalam kinerja pembelajaran, dan banyak siswa yang terjebak dalam kesalahan adab menuntut ilmu.  Fasilitas dan teknologi memang dinilai mempermudah proses menuntut ilmu, saat era digital dan media internet membuat ilmu menjadi berkelimpahan untuk diakses, namun minimnya kesadaran membangun mental pada  siswa untuk tahan dalam proses menuntut ilmu itu sering terlihat jelas saat in, padahal Adab yang baik saat menuntut ilmu akan menjadi hal yang memperkuat siswa dan hal menantang bagi sebagian orang tua, maka mendampingi dan menemani proses menuntut ilmu pada anak adalah sebuah proses pengasuhan yang sangat baik karena membangun kedekatan dan memperkuat hubungan kultural.

“Siapa dia yang tidak pernah mencicipi pahit getirnya mencari ilmu, maka ia akan merasakan hinanya kebodohan selama hidupnya.”

~Imam Syafi’i~
Belajar dari proses menuntut ilmunya seorang ulama besar, sejak usia remaja, ketika sedang belajar di Makkah, Karena ia tidak mampu membeli bahan tulisan yang cukup, imam Syafi’i biasanya pergi ke kantor gubernur untuk mencari kertas yang sudah digunakan. Di sisi kosong kertas, dia akan melakukan pelajaran. Dia menghafal Al Qur’an pada usia yang sangat muda.

Untuk meningkatkan pengetahuannya tentang bahasa Arab, ia pergi jauh ke padang pasir untuk bergabung dengan suku Badui Huthail, yang terkenal dengan standar terbaik untuk sastra Arab. Dia mempelajari puisi dan mempelajari laporan dan cerita prosa mereka. Pada usia 20 tahun ia telah menyelesaikan semua yang harus diajarkan oleh para ulama, tetapi kehausan akan pengetahuan ini tidak hilang. Jadi, dia pergi ke Madinah untuk belajar dari Imam Malik. dst….

Menjunjung tinggi kadar sebuah ilmu adalah mindset dasar yang perlu diajarkan orang tua pada anak, dimana anak akan memahami bahwa mencari ilmu itu bukan dengan cara di sodorkan dihadapan seperti proses makannya seorang bayi, namun perlu melakukan perjalanan dan merasakan proses perjuangan daat menuntut ilmu yang bisa melelahkan kepala akan menjadi proses keratif belajar pada anak , bahkan di lain kesempatan Imam Syafii berkata “Jika Kamu tidak dapat menahan lelahnya belajar,  Maka kamu harus sanggup menahan perihnya Kebodohan.”

Berikan pengetahuan pada anak tentang pentingnya berusaha dalam menuntut ilmu, bagaimana menjaga adab pada guru dan para sesama penuntut ilmu, saat adab itu terjaga maka ilmu yang akan diterima akan lebih bermanfaat dan menjadikan anak sebagai manusia lebih berkualitas.

Orang tua yang bebas

Beberapa cara Pola pengasuhan anak yang hari ini sering disebut dengan istilah parenting pun  pada  masing-masing cara tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan, ada sebuah cara yang sering dianut oleh orang tua dari golongan generasi Millenial pada anak-anak mereka, generasi Z. cara ini bisa dikenali sebagai cara pendidikan yang cenderung memberikan kebebasan dan membiarkan anak berproses dan mengambil keputusan sendiri, Orang tua yang “Bebas”.

 Orang tua yang memilih cara ini lebih suka “mempercayai” anak-anak mereka dalam semua aspek. Setelah anak itu mengadopsi seperangkat keterampilan keselamatan, orang tua yang bebas akan mundur. Pada kenyataannya, semua orang tua seperti itu ingin menikmati hidup mereka sendiri dan terlibat dalam kehidupan dan masalah anak mereka sesedikit mungkin.

Istilah ini menjadi terkenal karena kasus Lenore Skenazy, seorang mantan jurnalis yang membiarkan putranya yang berusia 9 tahun menggunakan kereta bawah tanah New York sendirian. Wanita itu biasanya disalahkan oleh masyarakat dan mendapat gelar “ibu terburuk Amerika.”

Pola asuh dengan cara memberikan banyak kebebasan adalah contoh tipe pengasuhan yang lalai.

Mengapa metode ini buruk bagi anak-anak? Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua bebas dapat tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih mandiri, bertanggung jawab dan tangguh. Namun, ketika mereka akan menghadapi beberapa masalah serius, mereka mungkin tidak mendapatkan cukup dukungan dan bantuan dari orang tua mereka yang sangat mereka butuhkan.

Apa yang buruk bagi orang tua? Masalah utama gaya Bebas adalah aspek hukumnya. Misalnya, di Queensland, adalah ilegal bagi orang tua untuk meninggalkan anak-anak mereka sendirian untuk waktu yang  cenderung lama.

Berikan kebebasan pada anak sesuai porsinya, dalam teknologi silahkan biarkan mereka mengexplorasi untuk mendapatkan kedalaman ilmu dibidang itu, bebaskan mereka dalam ruang yang tetap terjangkau oleh orang tua, sambil alokasikan waktu untuk menemani proses pertumbuhan ilmu mereka dengan dampingan dan diskusi yang mengedepankan komunikasi secara fisik agar naluri kultural anak tetap terjaga dan respon berkomunikasi saling membutuhkan antara kedua pihak.

Terlalu ketat dalam proses mengasuh anak, pengawasan total atau perawatan berlebihan tidak akan membuat anak-anak bahagia. Hal terbaik untuk dilakukan adalah memberi anak-anak kebebasan yang cukup dan membiarkan mereka menemukan dunia ini sembari berada di sisi mereka setiap saat mereka membutuhkan bantuan atau nasihat. Para ibu dan ayah yang peduli harus ingat bahwa aplikasi pemantauan orang tua yang andal dapat menjadi layanan hebat dalam mengawasi anak-anak tanpa merusak hubungan dengan mereka.

Fokus pada Kesabaran dan Kepuasan Dari Pekerjaan

Menemukan kenyataan bahwa generasi baru saat ini memiliki kecenderungan sifat yang lebih kompleks dan memerlukan penanganan khusus untuk bisa menjadi partner kolaborasi yang baik, bagaimana media sosial telah menciptakan budaya kepuasan instan, di mana generasi baru ini telah menumbuhkan rasa berhak dan harapan. pada keadaan bahwa mereka mampu hidup lebih baik dari generasi sebelumnya dalam segala hal hanya karena merasa ada dukungan teknologi.

“Media sosial, bagaimanapun, telah menciptakan generasi yang sangat tidak sabar yang menginginkan segalanya dengan segera. Terlebih lagi, kaum milenial tidak bertahan lama dalam hal apa pun, apakah dalam hal pekerjaan atau hubungan. ”- The Independent

Kutipan di atas menjelaskan mengapa kaum milenial mungkin menjadi “penghilang pekerjaan.” Mereka tidak sabar, karena mereka mengharapkan kesuksesan instan dan kepuasan di tempat kerja. Ketika mereka tidak merasakan atau mendapatkan barang-barang itu, mereka pergi dengan harapan bisa mendapatkannya di tempat lain. fenomenanya, ribuan millenial mendapatkan training dan pendidiakn setiap tahun dan mereka sangat tidak sabar … jusru pendidikan ang dibutuhkan kaum ini adalah mengajari mereka cara berkomunikasi, apa yang tersisa untuk mereka pelajari, dan bagaimana mencari tahu apakah pemimpin di tempat mereka bekerja termasuk seorang pemimpin ang peduli? biasanya mengakibatkan mereka tetap tinggal dan tidak meninggalkan perusahaan mereka. , setidaknya selama satu tahun atau lebih lama.

Bertindak sebagai pelatih bagi para generasi muda ini, Anda dapat mengajari pentingnya melakukan pekerjaan besar dan menemukan pemenuhan dalam proses itu. Pepatah klasik “kesabaran adalah suatu kebajikan” adalah salah satu yang banyak didengar anak-anak generasi baru, tetapi tidak benar-benar dipahami.

Ciptakan insentif agar generasi milenial Anda dapat mempelajari pentingnya bersabar. Kepuasan sejati, berasal dari proses melakukan pekerjaan jangka panjang, dan melakukannya dengan baik dengan upaya 100%. Seperti orang tua yang hebat, ciptakan tolok ukur yang secara intrinsik memotivasi mereka sehingga mereka dapat menciptakan motivasi diri dan merasakan kemajuan mereka.

Jika menjadi seorang pemimpin dengan cara yang baik dan pendekatan yang membuat nyaman generasi muda ini, namun tetap dalam sistem yang kuat, maka perusahaan atau ekosistem anda akan menjadi tempat yang nyaman dan sangat dicintai, selamat berproses.

Bagaimana orang dewasa menaklukkan hati remaja

Menjadi orang dewasa yang memahami sifat remaja sekarang dilakukan demi bisa membangun sebuah kerjasama yang berhasil, terutama di tempat kerja saat ini, untuk menjadi mentor bagi mereka  yang remaja golongan milenial dan gen Z terbaik membutuhkan kesadaran orang dewasa yang memperlakukan generasi baru ini seolah-olah Anda adalah bukan hanya sekedar tapi partner, mentor, sahabat bahkan orang tua mereka.

Sebagian pekerja melakukan curhat tentang generasi muda ini “ kami tidak harus menjadi orangtua bagi mereka di tempat kerja, mereka bukan anak-anak lagi, capek, dan itu sebabnya mereka menyebutnya pekerjaan dan mereka mendapatkan dibayar, profesional lah”.

“Oh ya, apa yang terjadi dengan pola pikir yang seperti itu jika dijalankan sampai hari ini? silahkan tidak percaya   , karena resiko yang terjadi adalah  tidak ada yang terjadi kecuali komunikasi yang berantakan dalam sebuah team. silahakan memulai mengubah pola pikir untuk benar-benar peduli dan berinvestasi dalam keberhasilan dan kemajuan mereka. Tunjukkan cinta yang kuat dan teguh dalam pendekatan Anda. Semakin jelas Anda tentang apa yang Anda inginkan dari milenium Anda, semakin mereka akan mengerti apa yang dituntut dari mereka untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Berikan tanggung jawab kepada milenium Anda dan beri mereka kesempatan untuk gagal. Ya,  Biarkan mereka gagal . Mereka perlu belajar bagaimana mengatasi kegagalan, mengembangkan harga diri, dan belajar dari kesalahan mereka. Sebagai pelatih milenial (dan orang tua), ini memberi Anda kesempatan untuk memberdayakan mereka dengan alat yang mereka butuhkan di dunia nyata — untuk tumbuh dan menjadi mandiri.

Tanamkan pentingnya melakukan pekerjaan luar biasa dan mengajarkan kesabaran milik generasi masa lampau  yang menjadi value besar anda. Jelaskan pada generasi baru bahwa tidak ada hal yang bernilai yang mudah didapatkan. Tetapkan tujuan di sepanjang jalan sehingga mereka belajar untuk menikmati proses, sambil tumbuh secara bersamaan.

Saat Anda muncul secara otentik untuk menjadi partner bagi generasi baru ini, mereka akan muncul untuk Anda dan perusahaan Anda. Cara baru melatih generasi baru ini adalah seperti mengasuh anak. Apakah Anda siap menghadapi tantangan?

 

Ijazah atau Portofolio

Pasca hari raya idul fitri 1440H, kantor kariranak.id kedatangan beberapa tamu yang bersilaturahmi dan sberdiskusi tentang program-program pendampingan untuk remaja di ekosistem kedepan, Pembahasan tentang Portofolio di masa depan juga menjadi diskusi yang selalu seru bagi para orang tua, karena, makin banyak pihak yang menyadari tentang pentingnya kemampuan kompetensi pada anak, terutama remaja yang sudah mulai memikirkan langkah untuk karirnya di masa depan.

kalau berbicara tentang profesi-profesi mandiri (yang menjadi ciri era teknologi/informasi) dan profesi masa depan, portofolio dan kemampuan menghasilkan output menjadi sebuah hal yang tak bisa ditawar lagi. Portofolio memiliki nilai yang lebih daripada ijazah; apalagi ijazah yang hanya sekedar formalitas. – Rumah inspirasi-

Dari Rumah inspirasi kita mendapatkan kesimpulan tentang portofolio yang memiliki nilai lebih dari pada ijazah, dan kita dikuatkan lagi oleh Northeastern University, 79% bahwa generasi Z memilih memadukan program edukasi dengan praktek seperti magang, untuk membangun portofolionya karena beberapa perusahaan besar di Indonesia pun hari ini tidak hanya sekedar menerima pekerja, mereka lebih merinisiatif untuk bekerja sama dengan mendatangi kampus dan membangun sebuah projek dan menjalin kerjasama dengan mahasiswa yang sudah bersedia untuk ikut berkontibusi.

Proses kolaborasi seperti ini sudah berjalan beberapa tahun lalu, pada tahun 2013 Facebook bermitra dengan 22 universitas di Amerika dan memberikan kredit ilmu komputer pada mahasiswa yang berprestasi untuk dalam proyek open source,  setelah fase berjalan  para mahasiswa yang ikut berkontribusi akan terlihat kemampuannya dan memudahkan semua pihak untuk menemukan bentuk kerjasama kedepannya.

membangun budaya kolaborasi dalam portofolio anak akan membantu proses belajar lebih efektif, karena anak akan mendapat apresiasi dari lingkungan atas kontribusinya dan anak akan merasa memiliki andil dalam membantu menyekesaikan sebuah projek, dan itu membantu kesadaran dalam diri anak akan keberadaan yang dibutuhkan pihak lain dan membutuhkan bantuan pihak lain sebagai manusia sosial.

 

selamat berproses

 

 

Moral pendidikan

Posisi urgensi pendidikan sangat tinggi letaknya di semua lapisan masyarakat. Dengan pendidikan seseorang bisa meraih cita-cita, memenuhi kebutuhan hidup, menciptakan lingkungan yang lebih baik, dan sebagainya. Namun urgensi yang lebih tinggi dari pendidikan ialah urgensi akan moral. Karena pendidikan yang tinggi saja tidak cukup, kepintaran tanpa kemuliaan akan menimbulkan kerusakan. Lihat saja kondisi dunia saat ini, banyak perusahaan menghasilkan banyak uang tetapi merusak alam dan tidak memperbaiki, serta banyak orang berjabatan tinggi tetapi mengorbankan orang-orang dibawahnya untuk kepentingan sendiri.

Maka jika sesorang tidak mempunyai moral yang cukup, maka ilmu yang seharusnya bermanfaat malah bisa beralih fungsi 180 derajat menjadi sebuah musibah. Lalu moral disini muncul untuk menjadi penyeimbang. Pendidikan yang baik harus diisi oleh ajaran ilmu sekaligus ajaran moral yang baik. Orang boleh menjadi sepintar apapun, tetapi tanpa dukungan moral yang baik kepintaran tersebut hanya akan membuahkan kesombongan dan kekikiran.

Menanamkan nilai moral dalam pendidikan merupakan upaya kita untuk mengubah atau membentuk sikap, perilaku, serta tindakan yang dilakukan peserta didik agar mampu berinteraksi dengan lingkungan masyarakatnya sesuai dengan nilai moral yang berlaku. Moral sendiri berarti kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk. Tolak ukurnya dipengaruhi dan dibentuk oleh agama dan budaya suatu masyarakat, yang standar itu bisa berbeda beda pada tiap daerah.

Menurut filsuf besar Imam Ghazali, keburukan moral manusia terbagi dalam empat tingkatan. Pertama adalah orang-orang lengah, yang tidak bisa membedakan baik dan buruk. Kedua ialah yang mengetahui akan hal-hal buruk, tetapi tidak menjauhkan diri darinya. Hal ini disebabkan karena adanya kenikmatan dalam perbuatan-perbuatan tersebut. Ketiga merupakan mereka yang merasa bahwa perbuatan buruk yang mereka lakukan adalah benar dan baik. Dikarenakan standar moral di tempat tinggalnya berkata demikian. Dan keempat ialah yang melakukan perbuatan buruk secara sadar, yang didasari oleh keyakinannya yang buruk juga.

Untuk menghindari keburukan moral yang telah disebutkan, perlu adanya pendidikan kepada anak sejak dini akan nilai-nilai moral yang baik. Baik dalam suatu tatanan masyarakat belum berarti baik secara hakikat. Maka perlu adanya observasi dan perbandingan pada standar moral di tiap masyarakat. Selain memandang suatu perbuatan dari segi agama, yang mana semua agama layaknya mengajarkan kebaikan, kita bisa memandangnya secara sederhana. Apakah perbuatan itu mendatangkan manfaat atau justru mendatangkan bahaya? Jika mendatangkan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain, maka perbuatan tersebut bisa dikatakan baik.

 

Jadi peran utama moral adalah menjaga diri kita dari bermacam keburukan. Pendidikan yang mengesampingkan moral hanya akan membentuk orang-orang pintar secara otak tetapi tidak pintar secara hati. Tugas kita sebagai generasi yang lebih dulu ialah terus menyadarkan pentingnya moral ini kepada generasi yang akan datang agar membentuk pribadi-pribadi yang pintar dan juga baik.

 

Adab dalam proses Pendidikan

Perkembangan teknologi mempercepat segalanya. Bermacam-macam bentuk kesulitan atau hambatan yang ada pada masa lalu sedikit demi sedikit terkikis oleh kehadiran teknologi yang kian lama semakin maju. Orang dapat mengakses apa yang ia butuhkan dengan mudahnya lewat gadget mereka yang hanya seukuran genggaman tangan. Namun kenapa orang zaman sekarang, dengan akses material yang sangat lengkap, masih saja suka mengeluh soal hidup mereka?

Kita terpenuhi secara materi, tetapi kosong secara nurani. Disinilah letak pentingnya penggunaan hati, yang diwujudkan dalam bentuk adab. Adab dapat membimbing manusia untuk menjadi makhluk yang lebih baik. Ancaman dan bahaya yang timbul dari munculnya kecanggihan teknologi ini dapat ditekan ketika seseorang itu beradab. Dari akar katanya dalam bahasa Arab, adab berarti sopan santun. Atau dalam arti luasnya dapat diartikan sebagai tata karma, moral sosial, nilai-nilai, atau apa saja yang dianggap baik dalam tatanan masyarakat.

Sepintar-pintarnya orang adalah meraka yang mengetahui pentingnya posisi adab ini. Para tokoh-tokoh besar seperti Imam Malik, sangat menekankan pentingnya peranan adab dalam pendidikan. Bahkan ketika ia belajar kepada salah satu gurunya yang bernama Syaikh Rabiah selama 20 tahun, hanya 2 tahun yang digunakannya untuk belajar ilmu. Sedangkan 18 tahun lainnya digunakan untuk mempelajari adab. Imam Malik kemudian di lain kesempatan berkata, “pelajarilah adab sebelum mempelajari sebuah ilmu.”

Ilmu setinggi apapun akan menjadi sia-sai jika tidak didasari dengan adab. Kecenderungan orang ketika memiliki illmu yang tinggi ialah hatinya akan ikut meninggi. Ia akan merasa lebih baik daripada lainnya karena mempunyai kemampuan dan kapasitas. Kemudian perasaaan itu akan bermanifestai dalam bentuk kesombongan, inilah bahaya dari menimba ilmu tanpa adanya kesadaran akan pentingnya adab.

Dengan adab manusia dituntun untuk menjadi lebih baik. Maka dari itu adab harus menjadi pondasi bagi seseorang dalam hidup. Pribadi yang berperilaku baik, ramah kepada sesama, bersikap dengan tata karma yang sopan, pasti akan disukai orang-orang disekelilingya. Tidak hanya itu, manusia yang beradab akan dimudahkan dalam perjalanannya mencari ilmu. Mempelajari adab secara terus menerus tidak akan menghalangi seseorang untuk pintar secara ilmiah. Justru melakukannya akan membantunya untuk memiliki ilmu secara lebih baik.

Membangun Kebiasaan baik

Memiliki anak remaja yang berbeda kebiasaannya dengan orang tua sering dijadikan sebuah “ganjalan” hati orang tua, kadang dijadikan alasan kemarahan orang tua, misalkan anak lebih senang mengurung diri dan bermain dalam kamar serta melakukan aktifitas dalam ruangan yang membuat anak tidak seperti remaja kebanyakan. Pada kondisi seperti ini orang tua perlu tenang sejenak, Bagi remaja, hidup bukanlah taman bermain, itu hutan. Dan, menjadi orang tua dari seorang remaja juga tidak berjalan di taman, proses ini adalah perjuangan membesarkan seorang manusia yang kan menjadi pertanggung jawaban dihadapan Tuhan. Dalam buku, 7 Kebiasaan Remaja yang Sangat Efektif , penulis Sean Covey  memberikan “kompas untuk membantu remaja dan orang tua mereka menavigasi masalah yang mereka hadapi setiap hari.”

orang tua perlu segera mengetahui Bagaimana  cara anak remaja menangani tekanan teman sebaya? Motivasi? Berhasil atau kurang? Kehidupan seorang remaja penuh dengan masalah sulit dan keputusan yang mengubah hidup. Sebagai orang tua,  bertanggung jawab untuk membantu mereka mempelajari asas dan etika yang akan membantu mereka mencapai tujuan dan menjalani kehidupan yang berhasil.

Meskipun baik untuk memberi tahu anak-anak bagaimana menjalani hidup mereka, “anak melihat dan memperhatikan apa yang Anda lakukan dibanding mendengarkan apa yang Anda katakan,”  Jadilah contoh hidup untuk mereka, praktikkan apa yang Anda khotbahkan. Contoh Anda bisa sangat berpengaruh untuk hidup mereka.

beberapa ide ini bisa anda lakukan untuk membantu anak remaja Anda memahami proses diri mereka dan bekerja samalah untuk menerapkannya:

 Proaktif

Menjadi proaktif adalah kunci untuk membuka kebiasaan lain. Bantu anak remaja Anda mengendalikan dan bertanggung jawab atas hidupnya. Orang proaktif memahami bahwa mereka bertanggung jawab atas kebahagiaan atau ketidakbahagiaan mereka sendiri. Mereka tidak menyalahkan orang lain atas tindakan atau perasaan mereka sendiri.

Mengenalkan Masa depan

Jika remaja tidak jelas tentang di mana mereka ingin berakhir dalam hidup, tentang nilai-nilai mereka, tujuan, dan apa yang mereka perjuangkan, mereka akan berkeliaran, membuang-buang waktu, dan dilempar ke sana kemari oleh pendapat orang lain. Bantu anak remaja Anda membuat pernyataan misi pribadi tentang bagaimana hidupnya di masa depan yang akan bertindak sebagai peta jalan dan mengarahkan serta memandu proses pengambilan keputusannya.

Menentukan prioritas

Kebiasaan untuk konsisten pada waktu dan mengatur aktifitas dalam daftar membantu remaja memprioritaskan dan mengatur waktu mereka sehingga mereka fokus dan menyelesaikan hal-hal terpenting dalam hidup mereka. Mengutamakan hal-hal pertama juga berarti belajar untuk mengatasi ketakutan dan menjadi kuat pada masa-masa sulit. Ini menjalani hidup sesuai dengan yang paling penting.

“Everybody happy”

Remaja dapat belajar menumbuhkan kepercayaan diri bahwa adalah mungkin untuk menciptakan suasana menyenangkan di setiap hubungan. Kebiasaan ini mendorong gagasan bahwa dalam setiap diskusi atau situasi tertentu kedua belah pihak dapat mencapai solusi yang saling menguntungkan. Anak remaja Anda akan belajar merayakan pencapaian orang lain dibanding merasa terancam oleh keberhasilan atas karya orang lain..

Memahami perasaan orang lain

Karena kebanyakan orang tua tidak pandai mendengarkan dengan baik, salah satu frustrasi terbesar dalam hidup ramaja saat ini adalah banyak yang merasa tidak dimengerti. Kebiasaan memahami perasaan orang lain akan memastikan anak remaja Anda mempelajari keterampilan komunikasi , mendengarkan secara aktif.

Kolaborasi

Sinergi tercapai ketika dua orang atau lebih bekerja bersama untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik daripada yang bisa dilakukan sendirian. Melalui kebiasaan ini, remaja belajar bahwa itu tidak harus menjadi “caramu” atau “caraku” melainkan cara yang lebih baik, cara yang lebih tinggi. Kolaborasi memungkinkan remaja menghargai perbedaan dan lebih menghargai orang lain.

Menjadi Spesialis

Remaja tidak boleh terlalu sibuk hidup meluangkan waktu untuk memperbaharui diri atau mempelajari hal-hal baru. Ketika seorang remaja memahami konsep “deep understanding” dia menjaga  pribadinya dan memperdalam pengetahuannya agar tajam dan terakui oleh masyarakat tentang kemampuan skillnya sehingga dia bisa lebih baik menghadapi kehidupan. Ini berarti secara teratur memperbarui dan memperkuat empat dimensi utama kehidupan – tubuh, otak, hati, dan jiwa.

 

Selamat Berproses bersama.

Membangun Kesadaran Enterpreneur

Bagi anak-anak maupun remaja, dunia mungkin bukan hal yang terlalu dipikirkan oleh mereka. Kebanyakan dari remaja masih terpaku pada kesibukan anak-anak seumuran mereka pada umumnya, belajar dan bermain. Apakah hal itu salah? Tentu tidak, itu merupakan hak mereka. Namun yang perlu disadari ialah, zaman sudah berkembang sampai pada taraf bahwa orang setua atau semuda apapun bisa menjadi seorang pengusaha. Tidak perlu lagi menunggu bertahun-tahun dalam mempunyai pekerjaan, siapapun dapat mulai berusaha dan bekerja sekarang juga.

Kondisi zaman yang seperti ini kian lama semakin membuat siapa saja yang telah memiliki kesadaran untuk memulai lebih awal dalam berkarir. Semakin lama semakin muncul orang sukses yang masih terbilang muda. Terlebih lagi orang-orang sukses tersebut bukan sekadar sukses secara keturunan. Banyak dari mereka yang datang dari latar belakang sederhana, bahkan dari latar belakang yang kurang mampu sekalipun. Kenapa? Karena mereka semua memiliki kesadaran, baik karena dorongan keadaan ataupun dorongan untuk berkembang, mereka semua ingin dirinya untuk berhasil. Hampir dari semua kesuksesan ini terjadi dalam bentuk usaha, atau dalam bahasa sekarang lebih sering disebut dengan entrepreneurship.

Maka jika anda termasuk orang yang menginginkan kesuksesan pada jalan yang serupa, kesadaran entrepreneurship ini haruslah dibangun. Seseorang yang telah mempunyai kesadaran entrepreneur tidak bisa lagi menghabiskan waktunya dalam sehari hanya untuk bermalas-malasan. Mereka menginvestasikan waktu yang mereka punya sebaik mungkin untuk masa depan mereka.

Jalan entrepreneurship sangat penuh resiko, tantangan dan halangan selalu bermunculan. Tidak sedikit orang yang mengalami kegagalan demi kegagalan dalam berentrepreneur. Yang membedakan entrepreneur sukses dan tidak ialah sikapnya dalam menghadapi kegagalan ini. Jika seseorang tersebut dengan mudahnya menyerah dihadapan kegagalan yang ia hadapi, maka ia tidak akan sanggup menjadi entrepreneur yang baik. Namun jika ia memandang sebuah kegagalan dengan cara mengambilnya sebagai sebuah pelajaran berharga, maka ia melangkah lebih lanjut kepada jalan kesuksesan. Mental seperti ini memang butuh dilatih, maka semakin cepat seseorang menyadari akan hal ini, maka akan semakin baik. Jalan kesuksesan memang berliku dan harus dilalui dengan proses yang penuh kesabaran.