Adab mencari ilmu

Budaya mencari ilmu ada sejak zaman dahulu, bahkan seorang Imam besar dunia seperti Imam syafii  suka melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu dan memberikan pelajaran atas keilmuannya pada masyarakat. Dalam hal pendidikan, ‘tekun menuntut ilmu’ adalah kombinasi dari minat untuk menguasai sesuatu, kerelaan dalam menerima tugas dan  ketahanan dalam menyelesaikan tugas yang bertujuan mencapai ilmu tersebut.

Melihat literatur, banyak ilmuan dan psikolog terkemuka, dulu dan sekarang, mengenali faktor non-intelektual dalam kinerja pembelajaran, dan banyak siswa yang terjebak dalam kesalahan adab menuntut ilmu.  Fasilitas dan teknologi memang dinilai mempermudah proses menuntut ilmu, saat era digital dan media internet membuat ilmu menjadi berkelimpahan untuk diakses, namun minimnya kesadaran membangun mental pada  siswa untuk tahan dalam proses menuntut ilmu itu sering terlihat jelas saat in, padahal Adab yang baik saat menuntut ilmu akan menjadi hal yang memperkuat siswa dan hal menantang bagi sebagian orang tua, maka mendampingi dan menemani proses menuntut ilmu pada anak adalah sebuah proses pengasuhan yang sangat baik karena membangun kedekatan dan memperkuat hubungan kultural.

“Siapa dia yang tidak pernah mencicipi pahit getirnya mencari ilmu, maka ia akan merasakan hinanya kebodohan selama hidupnya.”

~Imam Syafi’i~
Belajar dari proses menuntut ilmunya seorang ulama besar, sejak usia remaja, ketika sedang belajar di Makkah, Karena ia tidak mampu membeli bahan tulisan yang cukup, imam Syafi’i biasanya pergi ke kantor gubernur untuk mencari kertas yang sudah digunakan. Di sisi kosong kertas, dia akan melakukan pelajaran. Dia menghafal Al Qur’an pada usia yang sangat muda.

Untuk meningkatkan pengetahuannya tentang bahasa Arab, ia pergi jauh ke padang pasir untuk bergabung dengan suku Badui Huthail, yang terkenal dengan standar terbaik untuk sastra Arab. Dia mempelajari puisi dan mempelajari laporan dan cerita prosa mereka. Pada usia 20 tahun ia telah menyelesaikan semua yang harus diajarkan oleh para ulama, tetapi kehausan akan pengetahuan ini tidak hilang. Jadi, dia pergi ke Madinah untuk belajar dari Imam Malik. dst….

Menjunjung tinggi kadar sebuah ilmu adalah mindset dasar yang perlu diajarkan orang tua pada anak, dimana anak akan memahami bahwa mencari ilmu itu bukan dengan cara di sodorkan dihadapan seperti proses makannya seorang bayi, namun perlu melakukan perjalanan dan merasakan proses perjuangan daat menuntut ilmu yang bisa melelahkan kepala akan menjadi proses keratif belajar pada anak , bahkan di lain kesempatan Imam Syafii berkata “Jika Kamu tidak dapat menahan lelahnya belajar,  Maka kamu harus sanggup menahan perihnya Kebodohan.”

Berikan pengetahuan pada anak tentang pentingnya berusaha dalam menuntut ilmu, bagaimana menjaga adab pada guru dan para sesama penuntut ilmu, saat adab itu terjaga maka ilmu yang akan diterima akan lebih bermanfaat dan menjadikan anak sebagai manusia lebih berkualitas.

Orang tua yang bebas

Beberapa cara Pola pengasuhan anak yang hari ini sering disebut dengan istilah parenting pun  pada  masing-masing cara tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan, ada sebuah cara yang sering dianut oleh orang tua dari golongan generasi Millenial pada anak-anak mereka, generasi Z. cara ini bisa dikenali sebagai cara pendidikan yang cenderung memberikan kebebasan dan membiarkan anak berproses dan mengambil keputusan sendiri, Orang tua yang “Bebas”.

 Orang tua yang memilih cara ini lebih suka “mempercayai” anak-anak mereka dalam semua aspek. Setelah anak itu mengadopsi seperangkat keterampilan keselamatan, orang tua yang bebas akan mundur. Pada kenyataannya, semua orang tua seperti itu ingin menikmati hidup mereka sendiri dan terlibat dalam kehidupan dan masalah anak mereka sesedikit mungkin.

Istilah ini menjadi terkenal karena kasus Lenore Skenazy, seorang mantan jurnalis yang membiarkan putranya yang berusia 9 tahun menggunakan kereta bawah tanah New York sendirian. Wanita itu biasanya disalahkan oleh masyarakat dan mendapat gelar “ibu terburuk Amerika.”

Pola asuh dengan cara memberikan banyak kebebasan adalah contoh tipe pengasuhan yang lalai.

Mengapa metode ini buruk bagi anak-anak? Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua bebas dapat tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih mandiri, bertanggung jawab dan tangguh. Namun, ketika mereka akan menghadapi beberapa masalah serius, mereka mungkin tidak mendapatkan cukup dukungan dan bantuan dari orang tua mereka yang sangat mereka butuhkan.

Apa yang buruk bagi orang tua? Masalah utama gaya Bebas adalah aspek hukumnya. Misalnya, di Queensland, adalah ilegal bagi orang tua untuk meninggalkan anak-anak mereka sendirian untuk waktu yang  cenderung lama.

Berikan kebebasan pada anak sesuai porsinya, dalam teknologi silahkan biarkan mereka mengexplorasi untuk mendapatkan kedalaman ilmu dibidang itu, bebaskan mereka dalam ruang yang tetap terjangkau oleh orang tua, sambil alokasikan waktu untuk menemani proses pertumbuhan ilmu mereka dengan dampingan dan diskusi yang mengedepankan komunikasi secara fisik agar naluri kultural anak tetap terjaga dan respon berkomunikasi saling membutuhkan antara kedua pihak.

Terlalu ketat dalam proses mengasuh anak, pengawasan total atau perawatan berlebihan tidak akan membuat anak-anak bahagia. Hal terbaik untuk dilakukan adalah memberi anak-anak kebebasan yang cukup dan membiarkan mereka menemukan dunia ini sembari berada di sisi mereka setiap saat mereka membutuhkan bantuan atau nasihat. Para ibu dan ayah yang peduli harus ingat bahwa aplikasi pemantauan orang tua yang andal dapat menjadi layanan hebat dalam mengawasi anak-anak tanpa merusak hubungan dengan mereka.

Fokus pada Kesabaran dan Kepuasan Dari Pekerjaan

Menemukan kenyataan bahwa generasi baru saat ini memiliki kecenderungan sifat yang lebih kompleks dan memerlukan penanganan khusus untuk bisa menjadi partner kolaborasi yang baik, bagaimana media sosial telah menciptakan budaya kepuasan instan, di mana generasi baru ini telah menumbuhkan rasa berhak dan harapan. pada keadaan bahwa mereka mampu hidup lebih baik dari generasi sebelumnya dalam segala hal hanya karena merasa ada dukungan teknologi.

“Media sosial, bagaimanapun, telah menciptakan generasi yang sangat tidak sabar yang menginginkan segalanya dengan segera. Terlebih lagi, kaum milenial tidak bertahan lama dalam hal apa pun, apakah dalam hal pekerjaan atau hubungan. ”- The Independent

Kutipan di atas menjelaskan mengapa kaum milenial mungkin menjadi “penghilang pekerjaan.” Mereka tidak sabar, karena mereka mengharapkan kesuksesan instan dan kepuasan di tempat kerja. Ketika mereka tidak merasakan atau mendapatkan barang-barang itu, mereka pergi dengan harapan bisa mendapatkannya di tempat lain. fenomenanya, ribuan millenial mendapatkan training dan pendidiakn setiap tahun dan mereka sangat tidak sabar … jusru pendidikan ang dibutuhkan kaum ini adalah mengajari mereka cara berkomunikasi, apa yang tersisa untuk mereka pelajari, dan bagaimana mencari tahu apakah pemimpin di tempat mereka bekerja termasuk seorang pemimpin ang peduli? biasanya mengakibatkan mereka tetap tinggal dan tidak meninggalkan perusahaan mereka. , setidaknya selama satu tahun atau lebih lama.

Bertindak sebagai pelatih bagi para generasi muda ini, Anda dapat mengajari pentingnya melakukan pekerjaan besar dan menemukan pemenuhan dalam proses itu. Pepatah klasik “kesabaran adalah suatu kebajikan” adalah salah satu yang banyak didengar anak-anak generasi baru, tetapi tidak benar-benar dipahami.

Ciptakan insentif agar generasi milenial Anda dapat mempelajari pentingnya bersabar. Kepuasan sejati, berasal dari proses melakukan pekerjaan jangka panjang, dan melakukannya dengan baik dengan upaya 100%. Seperti orang tua yang hebat, ciptakan tolok ukur yang secara intrinsik memotivasi mereka sehingga mereka dapat menciptakan motivasi diri dan merasakan kemajuan mereka.

Jika menjadi seorang pemimpin dengan cara yang baik dan pendekatan yang membuat nyaman generasi muda ini, namun tetap dalam sistem yang kuat, maka perusahaan atau ekosistem anda akan menjadi tempat yang nyaman dan sangat dicintai, selamat berproses.

Bagaimana orang dewasa menaklukkan hati remaja

Menjadi orang dewasa yang memahami sifat remaja sekarang dilakukan demi bisa membangun sebuah kerjasama yang berhasil, terutama di tempat kerja saat ini, untuk menjadi mentor bagi mereka  yang remaja golongan milenial dan gen Z terbaik membutuhkan kesadaran orang dewasa yang memperlakukan generasi baru ini seolah-olah Anda adalah bukan hanya sekedar tapi partner, mentor, sahabat bahkan orang tua mereka.

Sebagian pekerja melakukan curhat tentang generasi muda ini “ kami tidak harus menjadi orangtua bagi mereka di tempat kerja, mereka bukan anak-anak lagi, capek, dan itu sebabnya mereka menyebutnya pekerjaan dan mereka mendapatkan dibayar, profesional lah”.

“Oh ya, apa yang terjadi dengan pola pikir yang seperti itu jika dijalankan sampai hari ini? silahkan tidak percaya   , karena resiko yang terjadi adalah  tidak ada yang terjadi kecuali komunikasi yang berantakan dalam sebuah team. silahakan memulai mengubah pola pikir untuk benar-benar peduli dan berinvestasi dalam keberhasilan dan kemajuan mereka. Tunjukkan cinta yang kuat dan teguh dalam pendekatan Anda. Semakin jelas Anda tentang apa yang Anda inginkan dari milenium Anda, semakin mereka akan mengerti apa yang dituntut dari mereka untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Berikan tanggung jawab kepada milenium Anda dan beri mereka kesempatan untuk gagal. Ya,  Biarkan mereka gagal . Mereka perlu belajar bagaimana mengatasi kegagalan, mengembangkan harga diri, dan belajar dari kesalahan mereka. Sebagai pelatih milenial (dan orang tua), ini memberi Anda kesempatan untuk memberdayakan mereka dengan alat yang mereka butuhkan di dunia nyata — untuk tumbuh dan menjadi mandiri.

Tanamkan pentingnya melakukan pekerjaan luar biasa dan mengajarkan kesabaran milik generasi masa lampau  yang menjadi value besar anda. Jelaskan pada generasi baru bahwa tidak ada hal yang bernilai yang mudah didapatkan. Tetapkan tujuan di sepanjang jalan sehingga mereka belajar untuk menikmati proses, sambil tumbuh secara bersamaan.

Saat Anda muncul secara otentik untuk menjadi partner bagi generasi baru ini, mereka akan muncul untuk Anda dan perusahaan Anda. Cara baru melatih generasi baru ini adalah seperti mengasuh anak. Apakah Anda siap menghadapi tantangan?

 

Ijazah atau Portofolio

Pasca hari raya idul fitri 1440H, kantor kariranak.id kedatangan beberapa tamu yang bersilaturahmi dan sberdiskusi tentang program-program pendampingan untuk remaja di ekosistem kedepan, Pembahasan tentang Portofolio di masa depan juga menjadi diskusi yang selalu seru bagi para orang tua, karena, makin banyak pihak yang menyadari tentang pentingnya kemampuan kompetensi pada anak, terutama remaja yang sudah mulai memikirkan langkah untuk karirnya di masa depan.

kalau berbicara tentang profesi-profesi mandiri (yang menjadi ciri era teknologi/informasi) dan profesi masa depan, portofolio dan kemampuan menghasilkan output menjadi sebuah hal yang tak bisa ditawar lagi. Portofolio memiliki nilai yang lebih daripada ijazah; apalagi ijazah yang hanya sekedar formalitas. – Rumah inspirasi-

Dari Rumah inspirasi kita mendapatkan kesimpulan tentang portofolio yang memiliki nilai lebih dari pada ijazah, dan kita dikuatkan lagi oleh Northeastern University, 79% bahwa generasi Z memilih memadukan program edukasi dengan praktek seperti magang, untuk membangun portofolionya karena beberapa perusahaan besar di Indonesia pun hari ini tidak hanya sekedar menerima pekerja, mereka lebih merinisiatif untuk bekerja sama dengan mendatangi kampus dan membangun sebuah projek dan menjalin kerjasama dengan mahasiswa yang sudah bersedia untuk ikut berkontibusi.

Proses kolaborasi seperti ini sudah berjalan beberapa tahun lalu, pada tahun 2013 Facebook bermitra dengan 22 universitas di Amerika dan memberikan kredit ilmu komputer pada mahasiswa yang berprestasi untuk dalam proyek open source,  setelah fase berjalan  para mahasiswa yang ikut berkontribusi akan terlihat kemampuannya dan memudahkan semua pihak untuk menemukan bentuk kerjasama kedepannya.

membangun budaya kolaborasi dalam portofolio anak akan membantu proses belajar lebih efektif, karena anak akan mendapat apresiasi dari lingkungan atas kontribusinya dan anak akan merasa memiliki andil dalam membantu menyekesaikan sebuah projek, dan itu membantu kesadaran dalam diri anak akan keberadaan yang dibutuhkan pihak lain dan membutuhkan bantuan pihak lain sebagai manusia sosial.

 

selamat berproses

 

 

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1440 H

Hidup Cuma Sekali
Lebaran Cuma Sekali

Sekali kali buat doa
Sekali kali buat pahalan

Nah kalo minta maaf ini bukan sekali-kali
Tiap kali buat salah mohon dimaafkan ya

Kami Keluarga Besar Kariranak.id

mengucapkan

Taqobalallahu Minna Wa Minkum, Minal Aidin Wal-Faizin Mohon Maaf Lahir Dan Bathin 🙏🏻

Moral pendidikan

Posisi urgensi pendidikan sangat tinggi letaknya di semua lapisan masyarakat. Dengan pendidikan seseorang bisa meraih cita-cita, memenuhi kebutuhan hidup, menciptakan lingkungan yang lebih baik, dan sebagainya. Namun urgensi yang lebih tinggi dari pendidikan ialah urgensi akan moral. Karena pendidikan yang tinggi saja tidak cukup, kepintaran tanpa kemuliaan akan menimbulkan kerusakan. Lihat saja kondisi dunia saat ini, banyak perusahaan menghasilkan banyak uang tetapi merusak alam dan tidak memperbaiki, serta banyak orang berjabatan tinggi tetapi mengorbankan orang-orang dibawahnya untuk kepentingan sendiri.

Maka jika sesorang tidak mempunyai moral yang cukup, maka ilmu yang seharusnya bermanfaat malah bisa beralih fungsi 180 derajat menjadi sebuah musibah. Lalu moral disini muncul untuk menjadi penyeimbang. Pendidikan yang baik harus diisi oleh ajaran ilmu sekaligus ajaran moral yang baik. Orang boleh menjadi sepintar apapun, tetapi tanpa dukungan moral yang baik kepintaran tersebut hanya akan membuahkan kesombongan dan kekikiran.

Menanamkan nilai moral dalam pendidikan merupakan upaya kita untuk mengubah atau membentuk sikap, perilaku, serta tindakan yang dilakukan peserta didik agar mampu berinteraksi dengan lingkungan masyarakatnya sesuai dengan nilai moral yang berlaku. Moral sendiri berarti kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk. Tolak ukurnya dipengaruhi dan dibentuk oleh agama dan budaya suatu masyarakat, yang standar itu bisa berbeda beda pada tiap daerah.

Menurut filsuf besar Imam Ghazali, keburukan moral manusia terbagi dalam empat tingkatan. Pertama adalah orang-orang lengah, yang tidak bisa membedakan baik dan buruk. Kedua ialah yang mengetahui akan hal-hal buruk, tetapi tidak menjauhkan diri darinya. Hal ini disebabkan karena adanya kenikmatan dalam perbuatan-perbuatan tersebut. Ketiga merupakan mereka yang merasa bahwa perbuatan buruk yang mereka lakukan adalah benar dan baik. Dikarenakan standar moral di tempat tinggalnya berkata demikian. Dan keempat ialah yang melakukan perbuatan buruk secara sadar, yang didasari oleh keyakinannya yang buruk juga.

Untuk menghindari keburukan moral yang telah disebutkan, perlu adanya pendidikan kepada anak sejak dini akan nilai-nilai moral yang baik. Baik dalam suatu tatanan masyarakat belum berarti baik secara hakikat. Maka perlu adanya observasi dan perbandingan pada standar moral di tiap masyarakat. Selain memandang suatu perbuatan dari segi agama, yang mana semua agama layaknya mengajarkan kebaikan, kita bisa memandangnya secara sederhana. Apakah perbuatan itu mendatangkan manfaat atau justru mendatangkan bahaya? Jika mendatangkan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain, maka perbuatan tersebut bisa dikatakan baik.

 

Jadi peran utama moral adalah menjaga diri kita dari bermacam keburukan. Pendidikan yang mengesampingkan moral hanya akan membentuk orang-orang pintar secara otak tetapi tidak pintar secara hati. Tugas kita sebagai generasi yang lebih dulu ialah terus menyadarkan pentingnya moral ini kepada generasi yang akan datang agar membentuk pribadi-pribadi yang pintar dan juga baik.

 

Kompetensi untuk kemandirian

Dunia modern membuat apa saja menjadi terasa begitu cepat. Globalisasi telah mencapai tingkat dimana seseorang dapat bekerja dimanapun dan kapanpun. Orang tidak perlu lagi terikat jam kerja untuk menjadi produktif. Semuanya bisa dengan mandiri mengatur jadwal sesuai kehendak dan kebutuhan mereka. Sudah banyak orang yang memakai konsep ini dalam kehidupannya, di Indonesia saja jumlah pekerja lepas sudah mencapai 22% dari seluruh jenis pekerja. Tetapi tentu tidak sembarangan, ada syarat tertentu yang harus dilalui agar orang dapat memiliki kebebasan dalam kesehariannya bekerja.

Syarat yang pertama dan utama adalah bahwa seseorang harus mempunyai kompetensi. Semakin definitive sebuah kompetensi yang dimiliki maka semakin mudah untuk terjun kepada suatu pekerjaan tertentu. Kedua ialah bahwa ia mempunyai kesadaran akan teknologi, karena teknologi lah yang berperan utama dalam diversitas dan fleksibilitas dari kemandirian ini.

Di internet sudah banyak website yang menjadi wadah bagi orang-orang untuk bekerja secara mandiri. Yang diperlukan sekarang adalah kemampuan, baik kemampuan untuk memperdayakan wadah tersebut maupun kemampuan bekerja itu sendiri. Banyak sekali kemampuan-kemampuan yang dicari oleh pihak yang membutuhkan, baik secara perorangan maupun tingkat perusahaan. Contohnya seperti keterampilan desain grafis, menulis, videografi, dan banyak lagi. Dari demand yang ada tersebut, kita bisa menawarkan diri untuk mengerjakan hal-hal yang mereka butuhkan sesuai dengan keahlian yang kita miliki.

Kemampuan untuk bekerja membutuhkan proses dan pengalaman. Dan kompetensi seseorang sangat menentukan peluangnya untuk memasuki dunia kerja. Maka perlu adanya pengasahan kompetensi sedini mungkin agar peluang kita untuk bisa bekerja mandiri semakin terbentuk dan tidak kalah oleh cepatnya perkembangan teknologi. Fase remaja merupakan fase yang paling tepat untuk memulai mengasah kompetensi. Sudah banyak platform-platform yang bisa dijadikan para anak-anak untuk mengembangkan keterampilan mereka, baik secara offline  maupun online.

Secara offline atau konvensional seperti yang sudah umum diketahui kita bisa menempatkan diri atau anak-anak kita ke tempat-tempat les atau tempat bimbingan lainnya. Tetapi dengan berkembangnya teknologi, belajar sebuah skill tidak harus lagi bertatap muka dengan seorang guru. Siapapun bisa mempelajari apapun secara online. Platform pembelajaran digital sudah berkembang sedemikian rupa dan semakin memudahkan kita dalam mengakses suatu ilmu. Maka tugas kita adalah menempatkan diri sendiri maupun anak kita sedini mungkin dalam menghadapi perkembangan zaman ini. Dimana memiliki sebuah kemampuan sangatlah penting untuk bisa menjadi pribadi yang mandiri.