Ekosistem dan ambience yang tepat untuk belajar

Impian orangtua untuk menciptakan Lingkungan yang Baik untuk belajar anak menjadi perbincangan akhir-akhir ini, karena itu pilihan untuk menempatkan anak pada tempat belajar tidak hanya di sekolah menjadi makin tinggi peminatnya, dengan meningkatnya kesadaran belajar orangtua agar anaknya menjadi lebih fokus pada kompetensi dan kemandirian, maka Ekosistem Onlina dan offline menjadi pilihan.

keinginan untuk selalu belajar seumur hidup mulai dini pada anak, karena Tujuan inti dari pendidikan adalah untuk menciptakan pembelajar seumur hidup. Keberhasilan di tempat kerja membutuhkan kemampuan kompetensi tiap pekerja untuk menemukan pengetahuan baru berkualitas. Landasan untuk keterampilan belajar ini adalah kebiasaan belajar yang diperoleh sejak awal di lingkungan keluarga, sekolah atau komunitas. Bagaimanapun, sebagian besar pembelajaran dalam hidup terjadi di kehidupan nyata.

Mari kita gunakan istilah kebiasaan belajar sepanjang waktu. Kebiasaan adalah tindakan yang dilakukan orang secara otomatis dan tanpa berpikir. Pikiran manusia adalah mesin penciptaan kebiasaan yang mencari tindakan yang dilakukan secara konsisten di lingkungan tertentu dan memungkinkan tindakan itu dilakukan lagi di lingkungan yang sama tanpa berpikir. Misalnya, Anda tidak perlu memikirkan di mana sakelar lampu berada di kamar Anda, bagaimana cara menekan pedal gas dan rem di mobil Anda atau bagaimana cara mengetik huruf pada keyboard komputer Anda. Anda telah melakukan tindakan ini berkali-kali sehingga menjadi kebiasaan.

Bottom of Form

Lingkungan belajar perlu memanfaatkan kekuatan kebiasaan. Kami ingin siswa memikirkan konsep yang mereka pelajari, tetapi kami tidak ingin lingkungan menyarankan tindakan lain yang akan menghalangi pembelajaran. Berikut adalah tiga hal yang dapat membuat belajar lebih efektif.

1) Minimalkan Kebiasaan Gangguan

Di dunia modern, anak-anak melekat pada iPod, ponsel pintar, pesan teks, Facebook, dan pesan instan. Sejak awal, anak-anak telah mengembangkan kebiasaan memeriksa sumber-sumber ini beberapa kali setiap jam. Kebiasaan-kebiasaan itu masuk ke konsentrasi anak selama belajar, mengingatkan dia bahwa sudah waktunya untuk memeriksa telepon atau komputer.

Sayangnya, multitasking ini menghalangi untuk memperoleh pengetahuan berkualitas tinggi. Dibutuhkan waktu untuk mengalihkan perhatian dari pekerjaan rumah ke beberapa sumber informasi lain dan waktu tambahan untuk mengalihkan perhatian kembali. Tidak hanya pergeseran konstan yang memengaruhi jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan, itu juga memengaruhi kualitas penelitian itu sendiri.

Untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih efektif, buat zona bebas gangguan selama waktu kerja. Parkirkan teknologi portabel di tempat lain di rumah. Jauhkan ponsel pintar dan iPod dari jangkauan lengan. Hapus pesan instan dari komputer dan larangan Facebook selama waktu belajar.

2) Ciptakan Ruang Kerja yang Konsisten untuk Belajar

Kebiasaan yang diciptakan anak-anak menjangkau sampai ke tingkat di mana mereka harus mencari alat dan perlengkapan yang mereka butuhkan untuk belajar. Itu berarti ruang kerja anak-anak harus diatur sehingga mereka tidak perlu mencari pensil, penghapus, atau kalkulator setiap hari. Anak-anak yang belajar di sebuah meja harus menjaga meja itu diatur dengan cara yang sama setiap hari. Anak-anak yang belajar di meja umum di rumah harus memiliki nampan atau nampan terdekat dengan persediaan di mana mereka dapat secara teratur menemukan apa yang mereka butuhkan tanpa harus menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan bagaimana mempersiapkan diri untuk belajar.

3) Temukan Lokasi dan Postur yang Efektif untuk Belajar

Teknologi modern sangat fleksibel sehingga tidak menempatkan banyak kendala di mana atau bagaimana anak-anak belajar. Adalah umum untuk melihat seorang anak menulis sebentar di meja, kemudian bekerja dari komputer laptop di lantai, dan kemudian berbaring di sofa untuk membaca buku.

Sulit untuk mempertahankan tingkat konsentrasi yang sama ketika berbaring di lantai atau disandarkan di tempat tidur seperti ketika duduk di meja. Kebiasaan tubuh saat berbaring adalah rileks dan tidur. Tidak membantu bagi seorang anak untuk melawan kecenderungan itu ketika belajar. Selain itu, berbaring mempromosikan membaca pasif. Sulit untuk membuat catatan atau mengetik saat berbaring. Jadi siswa yang sedang berbaring memainkan peran yang kurang aktif dalam pembelajaran mereka daripada mereka yang duduk.

Keuntungan dari mempromosikan perilaku ini adalah bahwa setelah beberapa saat sistem kebiasaan mulai masuk. Akhirnya, duduk di lingkungan yang terstruktur secara konsisten bebas dari teknologi yang mengganggu hanyalah cara belajar dilakukan – sekarang dan seumur hidup.

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *