MEMPERHATIKAN POLA ASUH

Karakter dari seseorang bergantung pada lingkungan sekitarnya. Lingkungan sekitar memberikan pengaruh terhadap pola berpikir yang terbentuk dalam diri seorang anak. Bukan hal yang aneh jika seorang anak mengadopsi beberapa tindakan yang sering dilakukan oleh lingkungan sekitarnya.

Anak adalah salinan dari orang tua, sedikit atau banyak karakter yang dimiliki seorang anak pasti memiliki kemiripan dengan orang tuanya. Hal itu terjadi karena pola asuh yang ditanamkan atau dicontohkan oleh orang tua kepada seorang anak sejak kecil.

Pola asuh yang digunakan dapat mempengaruhi karakter anak. Mengapa orang tua harus mengkoreksi pola asuhnya terhadap anak?, sejatinya perlakuan seorang anak mencontoh tindakan orang tuanya. Mereka adalah salinan dari orang tuanya, maka dari itu orang tua perlu mengkoreksi tindakan-tindakan yang mereka lakukan didepan anak.

Tidak hanya dapat mempengaruhi tindakan, pola asuh juga dapat mempengaruhi cara berpikir seorang anak. Berkembang atau tidaknya pola pikir anak bergantung pada literasi yang diberikan oleh pihak orang tua terhadap anak. Yang menjadi suatu pertanyaan adalah apakah sebagai orang tua anda sudah menerapkan pola asuh yang benar pada anak? Jika hal ini kembali dipikirkan maka akan muncul banyak kesadaran akan kesalahan cara mendidik anak.

Kebanyakan orang tua mendidik anak tidak sesuai dengan zamannya. Beberapa orang tua menggunakan pola asuh yang sama untuk mendidik anaknya dengan cara yang orang tuannya gunakan ketika mendidiknya. Hal ini tentunya perlu diperhatikan, jika disadari anak-anak yang lahir digenerasi sekarang tidak bisa dipaksa untuk berproses seperti generasi sebelumnya.

Menggunakan cara yang berbeda. Mendidik anak pada generasi ini memang harus menggunakan pola yang berbeda, karena jika kita menggunakan pola yang digunakan orang tua pada generasi sebelumnya tidak menutup kemungkinan jika anak akan lebih berontak karena fasilitas yang mereka miliki  lebih dari anak-anak generasi sebelumnya.

Orang tua sebagai pendamping, teman, dan panutan. Jika orang tua memposisikan diri hanya sebagai panutan dari anak maka anak akan lebih tertutup, anak akan susah untuk berbagi pemikiran dengan orang tua karena merasa takut. Hal ini berbeda ketika orang tua mampu menjadi seorang teman untuk anaknya, mereka akan lebih mudah untuk saling bertukar pikiran dan anak akan terarahkan dengan baik tanpa menyimpan rasa beban.

Menurut anda, apakah anda sudah menerapkan pola asuh yang benar pada anak? atau mungkin anda ingin berbagi pengalaman yang serupa dengan artikel ini? silakan tinggalkan pesan dikolom komentar.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *