Moral pendidikan

Posisi urgensi pendidikan sangat tinggi letaknya di semua lapisan masyarakat. Dengan pendidikan seseorang bisa meraih cita-cita, memenuhi kebutuhan hidup, menciptakan lingkungan yang lebih baik, dan sebagainya. Namun urgensi yang lebih tinggi dari pendidikan ialah urgensi akan moral. Karena pendidikan yang tinggi saja tidak cukup, kepintaran tanpa kemuliaan akan menimbulkan kerusakan. Lihat saja kondisi dunia saat ini, banyak perusahaan menghasilkan banyak uang tetapi merusak alam dan tidak memperbaiki, serta banyak orang berjabatan tinggi tetapi mengorbankan orang-orang dibawahnya untuk kepentingan sendiri.

Maka jika sesorang tidak mempunyai moral yang cukup, maka ilmu yang seharusnya bermanfaat malah bisa beralih fungsi 180 derajat menjadi sebuah musibah. Lalu moral disini muncul untuk menjadi penyeimbang. Pendidikan yang baik harus diisi oleh ajaran ilmu sekaligus ajaran moral yang baik. Orang boleh menjadi sepintar apapun, tetapi tanpa dukungan moral yang baik kepintaran tersebut hanya akan membuahkan kesombongan dan kekikiran.

Menanamkan nilai moral dalam pendidikan merupakan upaya kita untuk mengubah atau membentuk sikap, perilaku, serta tindakan yang dilakukan peserta didik agar mampu berinteraksi dengan lingkungan masyarakatnya sesuai dengan nilai moral yang berlaku. Moral sendiri berarti kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk. Tolak ukurnya dipengaruhi dan dibentuk oleh agama dan budaya suatu masyarakat, yang standar itu bisa berbeda beda pada tiap daerah.

Menurut filsuf besar Imam Ghazali, keburukan moral manusia terbagi dalam empat tingkatan. Pertama adalah orang-orang lengah, yang tidak bisa membedakan baik dan buruk. Kedua ialah yang mengetahui akan hal-hal buruk, tetapi tidak menjauhkan diri darinya. Hal ini disebabkan karena adanya kenikmatan dalam perbuatan-perbuatan tersebut. Ketiga merupakan mereka yang merasa bahwa perbuatan buruk yang mereka lakukan adalah benar dan baik. Dikarenakan standar moral di tempat tinggalnya berkata demikian. Dan keempat ialah yang melakukan perbuatan buruk secara sadar, yang didasari oleh keyakinannya yang buruk juga.

Untuk menghindari keburukan moral yang telah disebutkan, perlu adanya pendidikan kepada anak sejak dini akan nilai-nilai moral yang baik. Baik dalam suatu tatanan masyarakat belum berarti baik secara hakikat. Maka perlu adanya observasi dan perbandingan pada standar moral di tiap masyarakat. Selain memandang suatu perbuatan dari segi agama, yang mana semua agama layaknya mengajarkan kebaikan, kita bisa memandangnya secara sederhana. Apakah perbuatan itu mendatangkan manfaat atau justru mendatangkan bahaya? Jika mendatangkan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain, maka perbuatan tersebut bisa dikatakan baik.

 

Jadi peran utama moral adalah menjaga diri kita dari bermacam keburukan. Pendidikan yang mengesampingkan moral hanya akan membentuk orang-orang pintar secara otak tetapi tidak pintar secara hati. Tugas kita sebagai generasi yang lebih dulu ialah terus menyadarkan pentingnya moral ini kepada generasi yang akan datang agar membentuk pribadi-pribadi yang pintar dan juga baik.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *