Pendidikan berbasis nilai

Orang pintar di dunia sudah sangat banyak, terbukti pada tahun 2016 sudah tercatat kurang lebih ada 525 juta sarjana, atau kira-kira 7 dari setiap 10 orang. Angka ini menakjubkan jika kita melihat pada tahun 2006, orang yang memiliki gelar sarjana hanya berjumlah 1 dari 100. Membuktikan bahwa pendidikan berkembang secara sangat cepat.

Namun sayangnya, tingginya pendidikan yang ditempuh oleh para sarjana tersebut masih sangat condong kepada pengetahuannya saja, belum termasuk pada nilai-nilai kehidupan yang patutnya dimiliki oleh semua orang. Jadi yang tercetak di dunia ini adalah orang pintar secara otak tetapi kurang mulia secara hati. Ambil contoh, lihat saja betapa kecilnya kesadaran orang-orang untuk membuang sampah pada tempatnya. Seharusnya pengetahuan mereka memadai untuk tahu bahwa membuang sampah secara sembarangan tidak sepatutnya dilakukan. Namun kenapa ini masih saja terjadi dan mereka tampak acuh tak acuh?

Hal ini dikarenakan karena kurangnya kesadaran akan nilai. Semakin orang menjadi pintar maka akan semakin memiliki kecenderungan untuk besar hati. Maka agar kecondongan itu tidak kian membesar, perlu adanya penyeimbang. Kesadaran akan nilai itulah yang akan menimbulkan keseimbangan. Ketika hati kita diisi oleh nilai-nilai etika, ilmu yang tinggi tidak akan membiarkan hati kita untuk ikut meninggi. Tetapi justru akan membuat kita untuk menjadi rendah hati dan menghormati orang lain serta lingkungan.

Merujuk kepada Diane Tilman dan Dina Hsu, pendidikan akan nilai ini didasari oleh setidaknya 11 unsur, yaitu kedamaian, penghargaan, cinta, tanggung jawab, kebahagiaan, kerja sama, kejujuran, kerendahan hati, toleransi, kesederhanaan, dan persatuan. Penanaman unsur-unsur ini secara ideal harus diterapkan pada praktek pendidikan. Baik di rumah, di sekolah, atau dimanapun lingkungannya. Tidak hanya secara pengajaran, tetapi orang tua, guru, maupun mentor dalam bentuk lainnya harus menunjukkan nilai-nilai ini secara praktik. Jadi mereka yang berperan sebagai tenaga pengajar harus bisa menjadi role model. Karena cara termudah bagi anak-anak untuk mempelajari sesuatu adalah dengan meniru. Dan ketika terbentuk sinergi penerapan nilai-nilai kebaikan dari kedua pihak, maka akan menjadi suatu langkah untuk membentuk masyarakat yang lebih baik.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *