Posts

Kompetensi untuk kemandirian

Dunia modern membuat apa saja menjadi terasa begitu cepat. Globalisasi telah mencapai tingkat dimana seseorang dapat bekerja dimanapun dan kapanpun. Orang tidak perlu lagi terikat jam kerja untuk menjadi produktif. Semuanya bisa dengan mandiri mengatur jadwal sesuai kehendak dan kebutuhan mereka. Sudah banyak orang yang memakai konsep ini dalam kehidupannya, di Indonesia saja jumlah pekerja lepas sudah mencapai 22% dari seluruh jenis pekerja. Tetapi tentu tidak sembarangan, ada syarat tertentu yang harus dilalui agar orang dapat memiliki kebebasan dalam kesehariannya bekerja.

Syarat yang pertama dan utama adalah bahwa seseorang harus mempunyai kompetensi. Semakin definitive sebuah kompetensi yang dimiliki maka semakin mudah untuk terjun kepada suatu pekerjaan tertentu. Kedua ialah bahwa ia mempunyai kesadaran akan teknologi, karena teknologi lah yang berperan utama dalam diversitas dan fleksibilitas dari kemandirian ini.

Di internet sudah banyak website yang menjadi wadah bagi orang-orang untuk bekerja secara mandiri. Yang diperlukan sekarang adalah kemampuan, baik kemampuan untuk memperdayakan wadah tersebut maupun kemampuan bekerja itu sendiri. Banyak sekali kemampuan-kemampuan yang dicari oleh pihak yang membutuhkan, baik secara perorangan maupun tingkat perusahaan. Contohnya seperti keterampilan desain grafis, menulis, videografi, dan banyak lagi. Dari demand yang ada tersebut, kita bisa menawarkan diri untuk mengerjakan hal-hal yang mereka butuhkan sesuai dengan keahlian yang kita miliki.

Kemampuan untuk bekerja membutuhkan proses dan pengalaman. Dan kompetensi seseorang sangat menentukan peluangnya untuk memasuki dunia kerja. Maka perlu adanya pengasahan kompetensi sedini mungkin agar peluang kita untuk bisa bekerja mandiri semakin terbentuk dan tidak kalah oleh cepatnya perkembangan teknologi. Fase remaja merupakan fase yang paling tepat untuk memulai mengasah kompetensi. Sudah banyak platform-platform yang bisa dijadikan para anak-anak untuk mengembangkan keterampilan mereka, baik secara offline  maupun online.

Secara offline atau konvensional seperti yang sudah umum diketahui kita bisa menempatkan diri atau anak-anak kita ke tempat-tempat les atau tempat bimbingan lainnya. Tetapi dengan berkembangnya teknologi, belajar sebuah skill tidak harus lagi bertatap muka dengan seorang guru. Siapapun bisa mempelajari apapun secara online. Platform pembelajaran digital sudah berkembang sedemikian rupa dan semakin memudahkan kita dalam mengakses suatu ilmu. Maka tugas kita adalah menempatkan diri sendiri maupun anak kita sedini mungkin dalam menghadapi perkembangan zaman ini. Dimana memiliki sebuah kemampuan sangatlah penting untuk bisa menjadi pribadi yang mandiri.

Adab dalam proses Pendidikan

Perkembangan teknologi mempercepat segalanya. Bermacam-macam bentuk kesulitan atau hambatan yang ada pada masa lalu sedikit demi sedikit terkikis oleh kehadiran teknologi yang kian lama semakin maju. Orang dapat mengakses apa yang ia butuhkan dengan mudahnya lewat gadget mereka yang hanya seukuran genggaman tangan. Namun kenapa orang zaman sekarang, dengan akses material yang sangat lengkap, masih saja suka mengeluh soal hidup mereka?

Kita terpenuhi secara materi, tetapi kosong secara nurani. Disinilah letak pentingnya penggunaan hati, yang diwujudkan dalam bentuk adab. Adab dapat membimbing manusia untuk menjadi makhluk yang lebih baik. Ancaman dan bahaya yang timbul dari munculnya kecanggihan teknologi ini dapat ditekan ketika seseorang itu beradab. Dari akar katanya dalam bahasa Arab, adab berarti sopan santun. Atau dalam arti luasnya dapat diartikan sebagai tata karma, moral sosial, nilai-nilai, atau apa saja yang dianggap baik dalam tatanan masyarakat.

Sepintar-pintarnya orang adalah meraka yang mengetahui pentingnya posisi adab ini. Para tokoh-tokoh besar seperti Imam Malik, sangat menekankan pentingnya peranan adab dalam pendidikan. Bahkan ketika ia belajar kepada salah satu gurunya yang bernama Syaikh Rabiah selama 20 tahun, hanya 2 tahun yang digunakannya untuk belajar ilmu. Sedangkan 18 tahun lainnya digunakan untuk mempelajari adab. Imam Malik kemudian di lain kesempatan berkata, “pelajarilah adab sebelum mempelajari sebuah ilmu.”

Ilmu setinggi apapun akan menjadi sia-sai jika tidak didasari dengan adab. Kecenderungan orang ketika memiliki illmu yang tinggi ialah hatinya akan ikut meninggi. Ia akan merasa lebih baik daripada lainnya karena mempunyai kemampuan dan kapasitas. Kemudian perasaaan itu akan bermanifestai dalam bentuk kesombongan, inilah bahaya dari menimba ilmu tanpa adanya kesadaran akan pentingnya adab.

Dengan adab manusia dituntun untuk menjadi lebih baik. Maka dari itu adab harus menjadi pondasi bagi seseorang dalam hidup. Pribadi yang berperilaku baik, ramah kepada sesama, bersikap dengan tata karma yang sopan, pasti akan disukai orang-orang disekelilingya. Tidak hanya itu, manusia yang beradab akan dimudahkan dalam perjalanannya mencari ilmu. Mempelajari adab secara terus menerus tidak akan menghalangi seseorang untuk pintar secara ilmiah. Justru melakukannya akan membantunya untuk memiliki ilmu secara lebih baik.

Pendidikan berbasis nilai

Orang pintar di dunia sudah sangat banyak, terbukti pada tahun 2016 sudah tercatat kurang lebih ada 525 juta sarjana, atau kira-kira 7 dari setiap 10 orang. Angka ini menakjubkan jika kita melihat pada tahun 2006, orang yang memiliki gelar sarjana hanya berjumlah 1 dari 100. Membuktikan bahwa pendidikan berkembang secara sangat cepat.

Namun sayangnya, tingginya pendidikan yang ditempuh oleh para sarjana tersebut masih sangat condong kepada pengetahuannya saja, belum termasuk pada nilai-nilai kehidupan yang patutnya dimiliki oleh semua orang. Jadi yang tercetak di dunia ini adalah orang pintar secara otak tetapi kurang mulia secara hati. Ambil contoh, lihat saja betapa kecilnya kesadaran orang-orang untuk membuang sampah pada tempatnya. Seharusnya pengetahuan mereka memadai untuk tahu bahwa membuang sampah secara sembarangan tidak sepatutnya dilakukan. Namun kenapa ini masih saja terjadi dan mereka tampak acuh tak acuh?

Hal ini dikarenakan karena kurangnya kesadaran akan nilai. Semakin orang menjadi pintar maka akan semakin memiliki kecenderungan untuk besar hati. Maka agar kecondongan itu tidak kian membesar, perlu adanya penyeimbang. Kesadaran akan nilai itulah yang akan menimbulkan keseimbangan. Ketika hati kita diisi oleh nilai-nilai etika, ilmu yang tinggi tidak akan membiarkan hati kita untuk ikut meninggi. Tetapi justru akan membuat kita untuk menjadi rendah hati dan menghormati orang lain serta lingkungan.

Merujuk kepada Diane Tilman dan Dina Hsu, pendidikan akan nilai ini didasari oleh setidaknya 11 unsur, yaitu kedamaian, penghargaan, cinta, tanggung jawab, kebahagiaan, kerja sama, kejujuran, kerendahan hati, toleransi, kesederhanaan, dan persatuan. Penanaman unsur-unsur ini secara ideal harus diterapkan pada praktek pendidikan. Baik di rumah, di sekolah, atau dimanapun lingkungannya. Tidak hanya secara pengajaran, tetapi orang tua, guru, maupun mentor dalam bentuk lainnya harus menunjukkan nilai-nilai ini secara praktik. Jadi mereka yang berperan sebagai tenaga pengajar harus bisa menjadi role model. Karena cara termudah bagi anak-anak untuk mempelajari sesuatu adalah dengan meniru. Dan ketika terbentuk sinergi penerapan nilai-nilai kebaikan dari kedua pihak, maka akan menjadi suatu langkah untuk membentuk masyarakat yang lebih baik.

 

Perbedaan Kompeten dan Kompetensi

Seringkali, kita bingung membedakan antara Kompeten dan kompetensi dalam penggunaan kosakata keseharian, kata-kata ‘kompeten’ dan ‘kompetensi’ memiliki hubungan yang aneh. Sepertinya mereka memiliki arti yang sama, dan kita bisa lihat definisi dalam kamus sangat mirip. Namun, mereka sering digunakan dalam konteks yang berbeda.

Kedua kata tersebut memiliki etimologi yang sama, berasal dari kata Latin ‘competentia’, yang berarti perjanjian, konjungsi, dan mungkin keahlian. ‘Kompeten’ dan ‘kompetensi’ tampaknya telah terpisah satu sama lain dalam bahasa Inggris. Mungkin saja mereka terbentuk karena ejaan yang berbeda dari kata yang sama, mengambil makna yang berbeda dan menjadi kata yang terpisah. Saat ini, walaupun mereka memiliki arti teknis yang berbeda, penggunaan bersama mereka cukup mirip.

Kompeten yang merupakan kata sifat, menggambarkan kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu secara memadai, atau kapasitas mental seseorang untuk memahami suatu proses. Seseorang dianggap kompeten, saat mereka dapat melakukan tugas tertentu.

Kompetensi lebih sering digunakan untuk menggambarkan kemampuan seseorang untuk melakukan tugas tertentu. Kompeten dan kompetensi  muncul pada akhir abad keenam belas berarti persaingan, berkembang berarti pasokan yang memadai, dan akhirnya pada 1790, berarti kecukupan untuk berurusan dengan apa yang ada. 

Beberapa contoh penggunaan kata kompeten dan kompetensi dalam kalimat yang bisa membantu kita menempatkannya :

  • Siswa lulusan SMK berpotensi kehilangan pekerjaan saat wawancara dengan  HRD karena kurangnya kompetensi.
  • Negara sedang melakukan tes kompetensi bagi siswa untuk menentukan tingkat pembelajaran di antara anak-anak dengan mengevaluasi mereka sebelum Ujian Nasional (UN).
  • Keputusan memilih solusi untuk masalah dalam masyarakat diberikan pada pamong desa karena dianggap kompeten.

Demikian penjelasan singkat tentang bagaimana menempatkan kata yang tepat antara kompeten dan kompetensi, semoga bermanfaat.

Pendidikan Fokus pada Kompetensi

Pendidikan Fokus pada Kompetensi Adalah pendekatan untuk pendidikan yang berfokus pada hasil belajar yang diminati, sebagai pusat proses pembelajaran. Hal ini  berkaitan dengan perkembangan siswa melalui kurikulum dengan kecepatan, kedalaman belajar (Deep Understanding), dan lain-lain. Karena fokus pada kompetensi membuktikan, siswa terus mengalami kemajuan. Ini mirip dengan pembelajaran berbasis penguasaan / learning, dengan perbedaan utama adalah bahwa pembelajaran penguasaan akademis ,  yang cenderung berfokus pada konsep sebagai keterampilan, di sini kami sering menyebut dengan Proses LEARNING to ACHIEVED, sementara pembelajaran berbasis kompetensi sering memusatkan keterampilan yang dapat diamati atau ‘kompetensi, setelah Kompetensi terpenuhi, maka siswa siap untuk proses selanjutnya, disini kami sebut LEARN to ACHIEVED to EARN.
Karakteristik utama pembelajaran ini adalah fokus prosesnya pada kompetensi dan kemandirian. Dalam sistem pembelajaran berbasis kompetensi, siswa tidak diperbolehkan untuk melanjutkan sampai mereka telah menunjukkan penguasaan kompetensi yang telah di kurasi hasil pembelajarannya, hasil kurasi ini di tampilkan pada guru atau pembimbing agar dapat dinilai oleh pembimbing, apakah kompetensi siswa tersebut sudah siap untuk ditampilkan ke “market” atau dunia kerja. Dengan cara ini, pembelajaran berbasis kompetensi terkait erat dengan penguasaan konten materi belajar. Maka pembelajaran berbasis kompetensi melalui proses identifikasi, kurasi dan apresiasi, agar hasil yang dicapai oleh siswa menjadi sebuah kesiapan kemandirian secara utuh.
Dalam sistem pembelajaran ini, fasilitas pendukung dan Ekosistem yang tepat akan mempersingkat proses belajar, siswa yang berhasil mencapai target dengan pembelajaran berbasis kompetensi dapat menjadi model sukses (testimonial) yang efektif,  motivasi untuk peserta baru atau pihak lain karena menemukan cara yang berpotensi mengurangi inefisiensi (termasuk waktu yang dihabiskan untuk belajar) dan meningkatkan ketepatan cara belajar dan prestasi siswa.
 
Kekuatannya terletak pada fleksibilitas proses, karena peserta didik dapat bergerak dengan langkah mereka sendiri. Ini mendukung siswa dengan beragam latar belakang pengetahuan, tingkat kecerdasan, dan bakat terkait lainnya. Tantangan yang hadir dalam proses belajar ini harus terdengar akrab dan menarik bagi siswa dan pendidik, termasuk kesulitan dalam mengidentifikasi – dan menyepakati proses belajar.
 
Kompetensi menjadi tujuan paling penting yang ingin dicapai oleh siswa,  setelah sebelumnya proses belajar bagaimana menemukan minat dan cara terbaik mencapai masing-masing siswa, mentor pembimbing bertugas mengkurasi dan menilai mereka, dan  Ekosistem atau lingkungan mendukung siswa yang sedang berjuang, dengan memberikan suasana (Ambience) yang baik.
 
Di masa kini, teknologi menambah warna baru pada pembelajaran berbasis kompetensi, karena memberikan siswa akses langsung ke konten untuk mengembangkan kompetensi tersebut. Jika setiap siswa dapat mengakses konten yang sama dengan yang dilakukan guru, ada sedikit kebutuhan bagi kelas untuk bergerak bersama, dan siswa dapat membuktikan pemahaman mereka pada istilah yang lebih pribadi dan otentik, ini membuktikan bahwa siswa yang mendalami minat, akan menemukan lebih banyak ilmu pengetahuan sebagai materi pendukung untuk proses menuju kompetensinya.
 
Saat siswa memiliki kecepatan belajar yang luar biasa dengan bantuan teknologi, tugas mentor pembimbing disini lebih pada bagaimana membantu membangun kemampuan diluar teknis, seperti moral dan mental dalam memperisapkan diri menjadi pribadi yang mandiri dimasa depan.